aMSaL

BaGi DuNia KiTa HaNYaLaH SeSeoRaNG, BaGi SeSeoRaNG KiTaLaH DuNiaNYa

Senin, 07 Maret 2016

ATRIBUT-ATRIBUT ALLAH



1.    ATRIBUT-ATRIBUT ALLAH YANG DIUMUMKAN
a.    Keberadaan Allah (Allah adalah Roh).
Jikalau kita mengatakan bahwa kebenaran Allah adalah Roh. Maka kita akan mengalami kesulitan dalam memahami untuk membedakan keberadaan Allah yang adalah Roh dengan keberadaan yang lain, karena Alkitab juga menjelaskan bahwa para malaikat juga adalah roh yang melayani, memuji Allah dan yang diutus untuk melayani mereka yang harus memperoleh keselamatan (Ibrani 1:14). Itulah sebabnya G. I Williamson mengatakan bahwa “kita hanya dapat mengatakan bahwa Allah adalah satu Roh, kita sekaligus juga menyatakan bahwa keberadaan-Nya berbeda dengan keberadaan yang lain”.[1] Firman Tuhan menjelaskan bahwa Allah adalah Roh (Yoh 4:24). Dari perkataan ini, sebenarnya Tuhan tidak semata-mata berkata bahwa Allah adalah suatu roh, melainkan Ia adalah Roh. Oleh sebab Allah adalah Roh maka tidak ada seorang pun yang dapat melihat Allah.
Louis Berkhof mengatakan, “dengan menyatakan spiritualitas Allah kita juga menegaskan bahwa Allah tidak memiliki hal-hal yang bersifat materi dan Allah tidak dapat dilihat dengan nyata dengan panca indera manusia”.[2] Dalam hal ini berkaitan dengan Atribut Allah adalah Roh, maka tidak seorang pun yang dapat melihat wujud Allah, karena Dia adalah Roh dan tidak memilki sesuatu hal yang bersifat materi. Di sini Pengakuan Iman  Gereja Belanda menjelaskan  bahwa:
“Allah adalah roh, yang dalam diri-Nya dan dari diri-Nya adalah wujud, kemuliaan, kebahagiaan, dan kesempurnaan yang tak terhingga, mencukupi untuk segala hal; kekal, tidak berubah, tidak terpahami, hadir di segala tempat, mahatahu, mahakuasa, berhikmat sempurna, mahakudus, mahaadil, amat penyayang, murah hati dan panjang sabar, berlimpah kebaikan dan kebenaran-Nya”.[3]
Kebenaran Allah seluruhnya adalah Roh dan adalah suatu hal yang tidak mungkin jikalau manusia berusaha untuk mencari tahu siapa Allah, sebab Dia dalah Roh, yang tidak berwujud tidak bisa dipahami dan dimengerti oleh akal manusia. Itulah sebabnya Rasul Paulus mengatakan “hormat dan kemuliaan dan sampai selama-lamanya, bagi raja segala zaman, allah yang kekal, tak nampak, yang esa!” (I Tim. 1:17). Dan juga dalam I tim. 6:15, 16, Rasul Paulus mengatakan “Raja atas segala raja dan Tuan atas segala tuan. Dialah yang satu-satu-Nya yang tidak takluk kepada maut, bersemayam dalam terang yang tidak terhampiri. Seorang pun tidak pernah melihat dan memang manusia tidak dapat melihat Dia. Bagi-Nyalah hormat dan kuasa yang kekal! Amin”. Memang sulit sekali untuk mengerti bahwa Allah itu Roh, walaupun dalam Firman Tuhan mengatakan tentang tangan dan kaki, mata dan telinga, mulut dan hidung Allah, tetapi tidak berarti bahwa Allah itu mempunyai wujud sama seperti yang kita pikirkan, hal itu hanyalah sebuah kiasan, sebab Allah melebihi segala sesuatu yang ada dalam diri manusia.
b.   Hikmat Allah
Hikmat Allah berbeda dengan hikmat manusia. Louis berkhof mendefinisikan hikmat Allah sebagai “Kesempurnaan Allah dimana ia, dengan cara yang sangat unik, mengenal diri-Nya sendiri dan segala sesuatu yang mungkin dan aktual dalam satu tindakan kekal dan paling sederhana”.[4]  Jadi, hikmat Allah itu bersifat relatif dan Ia mengetahui tentang ciptaan-Nya dal pemahaman-Nya yang kekal, jauh sebelum dunia dijadikan. Dan bukan saja hikmat Allah itu dipandang sebagai suatu kesempurnaan tetapi juga harus kita tahu bahwa hikmat Allah tidak terjangkau dan tak terpahami oleh pikiran manusia, sebab hikmat Allah berbeda dengan hikmat manusia. Hikmat-Nya begitu dalam  (Roma 11:33),  benar adanya serta penuh kuasa. Hikmat Allah tersembunyi dan rahasia (I Kor. 2:7). Rasul Paulus mengatakan bahwa sesungguhnya hikmat manusia berubah menjadi kebodohan bila dipandang dari sudut hikmat Allah. Hal tersebut membuktikan bahwa merupakan tolok ukur, dalam arti bahwa semua hikmat yang lain diukur menurut hikmat Allah. Dan sangat jelas bahwa yang dimaksudkan disini adalah tindakan-tindakan Allahyang berhikmat dalam penyelamatan manusia. Dan juga kita ketahui bahwa karya Allah bagi manusia dipandang berasal dari hikmat-Nya.
Hikmat itu berkaitan erat dengan pengetahuan. Dan juga kita tidak dapat membedakan kedua kata tersebut, sebab hikmat merupakan penggunaan dari pengetahuan dan hikmat yang sempurna disebabkan adanya pengetahuan yang sempurna. Dalam Mat. 6:8, “Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan sebelum kamu meminta kepada-Nya”. Hal ini menunjukkan bahwa Allah mempunyai pengetahuan yang tepat dan terperinci mengenai tindakan-tindakan dan kebutuhan-kebutuhan makhluk-makhluk ciptaan-Nya. Ia melihat apa saja yang dilakukan oleh manusia secara tersembunyi (Mat. 6:4, 6). Yesus menyatakan bahwa tidak ada seorang pun yang tersembunyi  yang tidak akan diketahui (Mat. 10:26).
Dalam hal ini Donald Guthrie mengatakan bahwa “Pemahaman yang sempurna ini berarti bahwa rencana-rencana-Nya dan maksud-maksud-Nya adalah sempurna dan tidak pernah salah”.[5] Dalam kemhatahuan-Nya yang sempurna dan kekal adanya, Allah dapat mengetahui setiap tindakan dan keadaan manusia tanpa terkecuali.
c.    Kebijaksanaan Allah (Wisdom of God)
Atribut Allah ini bersifat praktis dan menjadikan pengetahuan menjadi pelayanan atas tujuan tertentu atau yang hendak dicapai. Hikmat dan kebijaksanaan Allah saling berkaitan erat, namun keduanya berbeda. Kebijaksanaan Allah nyata dalam ciptaan, providensi dan dalam karya penebusan atas umat-Nya yang telah dipilih dari kekal, dari selama-lamanya sampai selama-lamanya, (Mzm. 19:1-7; 104:1-34; 33:10,11; Rm. 8:18; 11:33; 1 Kor. 2:7; Ef. 3:10). Kebijaksanaan Allah adalah suatu kebodohan bagi orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan atau bagi mereka yang akan binasa (I Kor. 1:8). Itulah sebabnya kebijaksanaan Allah hanya ada pada orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan dan senantiasa hidup takut akan Dia. Sebagai contoh, lihatlah hidup raja Salomo yang penuh bijaksana, sehingga ia adalah raja yang termasyur dalam kerajaan Israel. Karena ia hidup taat dan takut akan Tuhan dalam pemerintahannya sebagai raja.
Louis Berkhof mengatakan bahwa kebijaksanaan Allah merupakan “kesempurnaan Allah dimana ia menerapkan pengetahuan-Nya pada keberhasilan tujuan akhir-Nya dalam cara yang paling memuliakan Dia”.[6] Dalam kebijaksanaan-Nya Allah telah mengetahui apa yang akan terjadi dan pasti akan terjadi sesuai dengan rencana-Nya yang tidak pernah salah dan keliru dan hal itu semuanya hanya untuk memuliakan diri-Nya sendiri. Tentang kebijaksanaan Allah ini, Robert Shaw lebih menegaskan lagi dengan mengatakan bahwa:
The wisdom of God is that perfection of His nature by which he directs all things to their proper end – the end for which He gave them being; and this is own glory; for as He is the most excellent being, nothing can be so excellent end as His own glory.[7] (Kebijaksanaan Tuhan adalah kesempurnaan alami-Nya dengan mana Ia mengarahkan segala sesuatu kepada akhir sesuai mereka- akhir dimana Ia memberi mereka ada; dan ini adalah kemuliaan bagi diri-Nya sendiri; karena Ia adalah yang paling sempurna, tidak ada apapun dapat akhir sangat sempurna seperti kemuliaan-Nya sendiri).
Pernyataan tersebut di atas membuktikan bahwa dalam kesempurnaan-Nya, dengan jelas Allah menunjukkan bahwa Ia selalu berusaha mencapai tujuan akhir yang terbaik yang sangat sempurna, yaitu memuliakan diri. H. B. Smith dalam bukunya Louis Berkhof memberikan definisi tentang kebijaksanaan Allah sebagai “atribut-atribut Allah dengan mana ia menghasilkan hasil akhir terbaik dengan cara yang terbaik yang mungkin dipakai”.[8] Segala sesuatu yang Tuhan perbuat dalam kebijaksanaan-Nya akan menjadi hasil akhir yang terbaik dan hasil akhir itu merupakan kemuliaan bagi diri-Nya sendiri. Dan kebijaksanaan-Nya telah nyata dalam diri Yesus  Kristus.
Atribut Allah ini berkaitan erat dengan Kemahatahuan Allah, sebab dalam Kemahatahuan-Nya Allah bertindak dengan kebijaksanaan-Nya menunjukkan pada kondisi Allah yang Mahatahu, dan dalam kebijaksanaan-Nya membicarakan tentang bagaimana Kemahatahuan Allah itu diterapkan dalam rencana, kehendak Allah yang tujuan-Nya sangat baik. Allah yang Mahatahu dan Allah Maha Bijak tidak pernah menjadi lebih tahu dan lebih pandai dari pada sebelumnya, semuanya itu tidak pernah berubah  dari kekal sampai kekal,  dari selama-lamanya sampai selama-lamanya.
Sulit sekali bagi kita untuk mengerti tentang Kemahatahuan Allah, sebab kita adalah manusia yang berdosa, yang penuh dengan keterbatasan dan bagaimana mungkin yang tebatas dapat memahami yang tidak terbatas. Manusia yang tahu bahwa Allah Maha Tahu pun tetap berusaha menyembunyikan dirinya dari Allah (Kej. 3:8), karena dosa menghantui dan membuat manusia takut kepada Allah. Bahkan manusia telah diselamatkan manusia masih berada dalam ketidaknyamanan dan ketidaksenangan dengan Allah yang Maha Tahu. Itulah sebabnya A. W. Tozer mengatakan bahwa:
“in the Divine Omniscience we see set forth against each other the terror fascination of the Godhied. That God knows each person through and through can be a cause of shaking fear to the man that has something to hide-some unforsaken sin, some secret crime committed against man of God”.[9] (Dalam kematahuan  Allah tersingkap hal-hal yang menakutkan dalam sekaligus mengherankan dari Allah. Allah yang mengetahui segala sesuatu dapat menjadi sumber ketakutan bagi mereka yang menyembunyikan sesuatu seperti dosa yang dirasa tak terampunkan atau kejahatan yang tersembunyi baik itu kepada sesama manusia maupun kepada Allah itu sendiri).
d.   Kebaikan Allah
Kebaikan Allah merupaka salah satu atribut Allah yang tergolong dalam atribut moral Allah. Kebaikan Allah adalah perasaan yang dirasaan yang dirasakan oleh Allah atas makhluk-Nya. Para Pemazmur mengatakan bahwa Tuhan itu baik, penuh dengan rahmat terhadap segala yang diciptakan-Nya. Dan juga nyata dalam perkataan Yesus terhadap orang muda yang kaya, “Tidak ada satu pun yang baik kecuali Allah ”. Dia adalah  sumber segala sesuatu yang baik dan melimpah kasih dan anugerah-Nya.
Louis Berkhof mendefinisikan kebaikan Allah atas makhluk-Nya “sebagai kesempurnaan allah yang membawa dia untuk berurusan dengan tanpa batas dan dengan lemah lembut dengan semua makhluk-Nya ”.[10]  Lebih jelas oleh R. L. Dabney dalam bukunya yanng berjudul  Systematic Theology”  mengatakan: His goodness is true; being perfectly sincere and its outgoing exactly according to His owh perfect knowledge of the real state of its object and His justice.[11] (kebaikan-Nya adalah benar; yang dengan sempurna tulus hati dan yang ramah tepat sesuai dengan pengetahuan yang sempurna dan riil tentang objek dan keadilan-Nya).
Dalam kebaikan Allah, Ia menuntut pertobatan yang sungguh-sungguh, sebab dalam kebaikan-Nya kita menjadi baik. Sebenarnya kita adalah manusia yang tidak memiliki hal-hal yang baik, karena manusia telah makan buah dari taman itu, sehingga manusia telah hilang segala-galanya di hadapan Allah. Akan tetapi dalam kebaikan Allah, membuat manusia menjadi baik di dalam Yesus Kristus. Dalam semuanya itu Allah menyesal, tetapi ingat menyesal-Nya Allah tidak sama dengan menyesalnya manusia, Allah tetap setia dalam maksud dan rencana-Nya, di samping itu tidak terlepas dari kebaikan-Nya yang telah nyata dalam kasih dan anugerah-Nya. Akan tetapi dalam kebaikan-Nya Allah juga merasakan kecewa, menyesal, mungkunkah Ia adalah Allah yang berubah? Sekali-kali tidak sebab Dia adalah Allah yang tetap berpegang pada keputusan dan rencana-Nya.
1.    Kasih Allah
Kebaikan Allah itu diterapkan kepada umat-Nya. Dalam konteks inilah Allah juga menunjukan kasih-Nya yang besar terhadap umat-Nya. Dalam kebaikan-Nya Allah juga membuktikan kasih-Nya yang luar biasa terhadap manusia. Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya, melainkan sebaliknya Ia selalu mengasihi dengan kasih setia-Nya yang tidak pernah berkesudahan. Dan pada kenyataannya bahwa tuhan sedih melihat dosa-dosa umat-Nya berarti Ia mengasihi umat-Nya (Yes. 63:9-10; Efesus. 4:30). Jelas sekali bahwa keterlibatan perasaan Allah kepada umat-Nya dan hal itu terbukti dalam kasih-Nya. Allah bertindak dalam kasih-Nya secara sukarela dan Cuma-Cuma yang berlandaskan kebenaran dan kekudusan-Nya. H. C. Thiessen mengatakan bahwa, kasih Allah merupakan kasih sayang yang rasional dan sukarela karena berlandaskan kebenaran dan kekudusan serta bertindak secara sukarela.[12]
Dengan tali kasih-Nya Allah menarik segala umat kepunyaan-Nya tanpa terkecuali. Yang telah dipilih-Nya dari kekal sampai kekal menyerukan “karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal ” (Yoh. 3:16). Pengakuan Iman Gereja Belanda mengatakan, “Dalam Yesus, Allah menyatakan kasih-Nya dan kemurahan-Nya”.[13] Dalam semuanya itu, Allah bertindak dalam kasih-Nya yang besar untuk menyelamatkan orang-orang pilihan –Nya teristimewa untuk memuliakan diri-Nya sendiri.
Louis Berkhof mendefinisikan kasih Allah sebagai “kesempurnaan Allah yang dengan –Nya Ia digerakkan secara kekal kepada komunikasi diri”. [14] Allah  baik dan kesempurnann-Nya mutlak adanya. Allah adalah kasih. Dan sumber kasih (II Kor. 13:11; I Yoh. 4:8, 16), Allah mengasihi dunia (Yoh. 3:16; Ef. 2:4). Oleh kasih-Nya sehingga kita mempunyai keyakinan bahwa kasih Allah merupakan sumber penghiburan bagi setiap kita yang percaya kepada-Nya (Roma. 8:35-39). Allah mengasihi kita untuk memuliakan diri-Nya. Allah tidak pernah menarik kasih-Nya atas ciptaan-Nya yang telah berdosa dan walaupun dosa adalah suatu kebencian bagi Allah. Akan tetapi perlu diingat bahwa Allah mengasihi umat-Nya yang khusus dengan kasih yang khusus dan hal itu telah nyata dalam diri Yesus Kristus. Di dalam Dialah, orang-orang pilihan-Nya diangkat menjadi anak-anak-Nya dan mengkomunikasikan diri-Nya secara nyata dan melimpah anugerah dan kemuliaan-Nya (Yoh. 16:27; Rm. 5:27; I Yoh. 3:1 ).
Kasih Allah tidak dapat dianalogikan dengan kasih yang dimiliki oleh manusia, sebab kasih manusia dapat dipahami, dikenal bahkan dapat dimiliki, tetapi kasih Allah merupakan atribut-Nya yang menggambarkan sifat-Nya yang tidak bisa dilihat, dikenal, dipahami oleh indera manusia. Itulah sebabnya Yakub B. Susabda mengatakan “Kasih Allah bukanlah sesuatu yang natural sehingga dapat dibandingkan dengan kasih manusia yang dapat dikenal, pahami, rasakan, bahkan miliki”.[15]
Kasih Allah yang dimaksud disini adalah kasih “agape”, kasih yang tidak menuntut balas sedangkan kasih manusia adalah kasih filia, storge, dan eros yang dapat dimengerti dan dipahami. Tuhan Yesus berkata, “sama seperti Aku mengasihi kamu …semua orang akan tahu bahwa orang bahwa kamu adalah murid-murid-Ku yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yoh. 13:34-35). Lebih jelas lagi dikatakan oleh Dr. J. Verkuyl:
Allah adalah kasih, itu berarti bahwa Ia menyatakan diri-Nya kepada kita. Ia sedia bergaul dengan kita. Ia memberi keampunan dan menaruh belas kasihan kapada kita. Allah adalah kasih, itu berarti bahwa bukan sedikit yang diberikan kepada kita, bukan pula banyak sekali, tetapi semua, segala-galanya diberikan kepada kita, supaya kita tertolong dari cengkeraman dosa untuk memperoleh keselamatan dan untuk dipimpin kembali kepada tujuan kita semula buat selama-lamanya.[16]
2.    Anugerah Allah
Dalam kebaikan Allah ada anugerah, dan anugerah itu merupakan salah satu atribut Allah yang menunjukan kebaikan Allah yang tanpa pamrih, yang tanpa menuntut balas kepada manusia. Louis Berkhof mengatakan, “Istilah anugerah ini menunjukan kebaikan yang tanpa pamrih atau kasih Allah kepada mereka yang sering mengabaikannya, yang dalam naturnya layak untuk dihukum”.[17] Yang sebenarnya manusia yang memberontak terhadap Allah patut dihukum atas segala dosa-dosanya. Akan tetapi, dalam kebaikan-Nya Allah bertindak berdasarkan kasih-Nya, sehingga Ia menganugerahkan keselamatan itu kepada umat-Nya yang khusus (Ef. 2:8; Titus. 2:11).
Dengan anugerah-Nya Allah menarik kepunyaan-Nya, yang telah ditentukan-Nya, dari kekal sampai kekal. Dalam anugerah-Nya Allah menginsafkan kita, supaya kita menyadari akan kemalangan hidup kita yang penuh dengan dosa, yang sebenarnya pantas untuk dimurkai oleh Allah. Oleh karena itu, dengan hati yang percaya, hati yang luluh lantak merendahkan diri dihadapan Allah, karena kita tidak berhak sedikitpun meninggikan dan menyombongkan diri dihadapan Allah. Dan tiada yang bisa diperbuat oleh manusia untuk membalas kebaikan Allah, selain ber-pasrah diri dan hanya bergantung kepada  Allah. Seperti yang dikatakan oleh Philip Yancey, “grace means there is nothing we can do to make God love us more, and grace means there is nothing we can do to make God love us less”. [18](kasih karunia berarti tak ada satu pun yang dapat dilakukan untuk menambah atau mengurangi kasih yang Allah sudah berikan).
3.    Belas kasihan dan kemurahan Allah
Kebaikan Allah juga berkaitan erat dengan belaskasihan-Nya. Sebab kebaikan dan kasih Allah merupakan belaskasihan-Nya. Hal ini berarti bahwa dalam kebaikan-Nya Allah bertindak berdasarkan kasih-Nya dan menganugerahkan keselamatan kepada umat-Nya, bukan karena Tuhan memperhitungkan segala kebaikan dan amal manusia melainkan hanya karena pengasihan atau belas kasihan Allah. Ketika manusia jatuh dalam dosa, manusia sudah terjerat dan berada dalam ketidakberdayaan, sehingga dengan belas kasihan Allah dalam kasih-Nya Ia datang mengangkat manusia dari ketidakberdayaan-Nya serta Tuhan senantiasa melepaskan manusia dari segala kesusahan-kesusahan yang ada.
Loius Berkhof berkata,” Dalam kemurahan-Nya Allah menyatakan diri-Nya sebagai Allah yang berbelaskasihan, yang merasa kasihan pada mereka yang ada dalam kesusahan dan Allah senantiasa siap untuk melepaskan mereka dari kesusahan mereka”.[19] Dalam kemurahan-Nya Allah selalu menolong manusia yang mengalami kesusahan, persoalan dan tantangan yang sedang dihadapi. Dan oleh kemurahan-Nya manusia dapat diselamatkan, yang sebenarnya tidak layak untuk diselamatkan. Dengan jelas Donald Guthrie mengatakan bahwa kemurahan hati Allah yang tidak pantas diterima oleh orang yang layak dihukum. Istilah inilah yang mengungkapkan sikap Allah yang menyediakan keselamatan bagi manusia.[20] Dan belaskasihan Allah tak pernah ada batasnya, (Ul. 5:10; Mzm. 57:10; 86:5).
4.    Kesabaran Allah
Kebaikan dan kasih Allah juga selalu dikaitkan dengan kesabaran Allah, sebab dalam kebaikan dan kasih-Nya Allah bertindak dengan sabar walaupun manusia terus-menerus memberontak dan tidak taat kepada Allah.
5.    Kesucian dan Kekudusan Allah.
Atribut Allah ini digolongkan sebagai atribut moral Allah, sebab dalam atribut tersebut mengungkapkan sifat dan kelakuan Allah yang kudus dalam setiap tindakan-Nya, baik itu dalam kasih-Nya, anugerah-Nya, maupun dalam kebaikan dalam keadilan-Nya. Dr. H. Hadiwijono menyatakan bahwa: “Kekudusan Tuhan Allah bukan suatu teori, bukan hasil pemikiran manusia. Demikianlah kekudusan Allah menunjukkan kelainan, Tuhan Allah dari manusia. Akan tetapi arti kekudusan ini tidak pernah dipisahkan daripada hubungan Tuhan Allah dengan umat-Nya”.[21] Pernyataan ini jelas bahwa Allah itu kudus adanya dan tak akan pernah bercampur, bersekutu dengan dosa.
Bagi manusia adalah suatu hal yang tidak mungkin untuk mengerti, apa sebenarnya kesucian Allah tanpa Allah menganugerahkan kepadanya. Walaupun manusia mengenal kata suci, tetapi sebatas dalam konteks pengertian dan pemahaman kita tentang kesucian Allah. Dalam hal ini James M. Bois mengatakan bahwa: “perfection of the God…and the holiness of God cannot be placed in the same category as human goodnes.”[22] (Kesempurnaan dari hal-hal yang baik…dan kesucian Allah tidak dapat ditempatkan dalam kategori yang sama seperti yang manusia pikirkan dengan kebaikan-kebaikan tertentu).
Manusia tidak dapat mengerti dan memahami atribut Allah ini menurut pikiran manusia sendiri, karena kesucian Allah bukanlah masalah moral dan etika yang dapat dimengerti dan yang selalu dibayangkan oleh manusia. Kesucian sama sekali bukan konsep tentang etika. Karena lebih menunjuk pada natur Allah yang sama sekali terpisah dan berbeda dari yang lain termasuk dari segala ciptaan-Nya Ia adlah Allah yang suci, artinya Ia yang sama sekali berbeda atau lain. Walaupun Allah hadir dan memberikan diri-Nya dikenal oleh umat-Nya, namun Ia tetap Allah yang terus-menerus menyingkapkan diri-Nya sebagai Allah yang berbeda dan tidak dapat dimengerti dan dipahami. Emil bruner, mengatakan bahwa: “the holiness of God is therefore not only an absolute difference of nature, but it is an active self-differentiation, the willed energy with which God asserts and maintains the fact that he is Wholly Other againts all else. The absoluteness of this difference bocomes the absoluteness of His holy will, which is supreme and unique.”[23] (Kesucian Allah bukan hanya natur-Nya yang berbeda tetapi bahkan perbedaan secara aktif terus dikerjakan Allah karena Dia ingin selalu dikenali sebagai sama sekali lain dari segala sesuatu. Kemutlakan perbedaan ini termasuk kemutlakan kehendak-Nya yang utama dan unik).
6.    Kebenaran dan Keadilan Allah.
Kebenaran Allah yang dimaksudkan di sini adalah kebenaran yang dinyatakan Allah dalam berelasi dengan makhli-Nya. Dan atribut Allah ini biasa juga disebut sebagai keadilan Allah, karena kebenaran nyata, dalam menghukum orang-orang yang tidak percaya kepada-Nya. Mengenai kebenaran dan keadilan, William W. Menzies dan Stenley M. Horton mengatakan bahwa, keadilan dan kebenaran dibantu melalui kemarahan Allah yang Kudus atau kemurkaan terhadap orang-orang yang membangkang kepada Dia (Why. 16:1-5).[24] Di samping itu juga dalam kebenaran-Nya dengan adil-Nya Allah memberi pengampunan kepada manusia yang bertobat, membela umat-Nya dan memberikan jaminan yaitu hidup yang kekal pada mereka yang dibenarkan dalam Kristus.
Hal yang sama dan lebih ditegaskan oleh Ichwei. G. Indra menyatakan bahwa : kebenaran Allah itu dinyatakan dalam menghukum orang yang berdosa (Mzm. 11:4-9), dalam mengampuni orang yang mengakui segala dosanya (1 Yoh. 1:9), dalam menepati janji-janji-Nya (Neh. 9:7-8), dalam membela umat-Nya di hadapan musuh (Mzm. 129:1-4), dan dalam menganugerahkan pahala kepada orang benar (2 Tim. 4:8; Ibr. 6:10).[25] Telah nyata bahwa dalam menyatakan kebenaran-Nya Allah bertindak dengan keadilan-Nya dengan seadil-adilnya. Secara singkat Stephen Tong mengatakan, Allah adalah kebenaran itu sendiri, Allah adalah sumber dan realita pada keadilan itu sendiri dan Allah adalah diri-Nya kebenaran itu sendiri.[26] Sebagai suatu kesimpulan bahwa, dalam kebenaran-Nya Allah bertindak dengan keadilan-Nya dalam menyatakan penghukuman pada orang berdosa dan penyelamatan kepada mereka yang telah dikhususkan sejak dari semula. Sehingga dalam kebenaran dan keadilan Allah kita dapat melihat dua sudut yang berbeda seperti yang dikatakan oleh Dr. R Soedarmo, keadilan Allah mempunyai sudut yang positif, yaitu memberi pahala kepada orang yang taat kepada-Nya dan sudut negatif adalah menjatuhkan hukuman atas orang yang bersalah.[27]
7.    Kehendak Allah yang Berdaulat
Kehendak Allah atau will of God adalah Allah itu sendiri, di mana dalam kehendak-Nya Allah bertindak dengan kemahakuasaan-Nya untuk orang-orang-Nya teristimewa untuk kemuliaan diri-Nya. Satu kata pendek dikemukakan oleh Herman Bavick bahwa “God’s will is God Himself.”[28] (Kehendak Allah adalah Allah itu sendiri). Allah di dalam diri-Nya adalah Allah yang mempunyai kehendak untuk diri-Nya sendiri dan apa yang menjadi kehendak-Nya pasti akan terjadi (Mzm. 115:3; Ams. 21:1; Dan. 4:35). Mahakuasa adalah bahwa Allah memilliki kuasa di atas kuasa yang lain dan kuasa-Nya mutlak adalah atas ciptaan-Nya. Dia memerintah ciptaan-Nya dan seluruh semesta alam di bawah pengadilan-Nya. Sebab dalam kehendak-Nya Allah menunjukkan kuasa pada manusia. Dengan kata lain, dengan kuasa-Nya Allah melaksanakan kehendak-Nya. Duane Edward Spenser mengatakan, the Calvinist insist that salvation is based on the free will of God, and since God is omnipotent, His grace cannot be resisted.”[29] (Calvinis dengan tegas mengatakan bahwa keselamatan berdasarkan kehendak bebas Allah, karena Allah itu Mahakuasa).
2.    KASIH KARUNIA/ANUGERAH ALLAH SECARA KHUSUS
Berbicara tentang kasih karunia Allah secara khusus, terlebih dahulu kita harus tahu apa itu kasih karunia Allah secara khusus.  Dan kata anugerah dalam Perjanjian Lama terambil dari bahasa Ibrani “chanan” yang berarti kebaikan dan keindahan (Amsal 22:11; 31:30) dan yang paling umum diartikan sebagai kemurnian hati dan kemauan baik.  Dan dalam Perjanjian Baru diambil dari Bahasa Yunani “charis” yang berarti bersukacita, yang paling tepat adalah maksud atau kehendak baik (Luk. 1:30; 2:40, 52; Kis.2:47; 7:46; 24:27).  Kata-kata ini menunjukkan perkerjaan Allah yang tidak memperhitungkan perbuatan dan amal manusia (jasa), dan hal itu semata-mata karena anugerah Allah.  Anugerah ini merupakan wujud kasih Allah kepada manusia secara cuma-cuma, yang tidak pernah berubah, yang diwujudnyatakan dalam pengampunan dan pembebasan dari hukuman.  Terbukti dalam pengorbanan Kristus di atas kayu salib untuk dosa umat pilihan-Nya.
Louis Berkhof mengatakan, anugerah adalah kasih Allah kepada manusia yang cuma-cuma, berdaulat, tidak berubah, ketika manusia masih berdosa dan bersalah dan anugerah itu diungkapkan dalam pengampunan dosa dan pembebasan dari penghukuman dosa.[30]  Jelas bahwa hal ini merupakan suatu anugerah yang dikhususkan kepada mereka yang telah dikhususkan dan yang ditentukan-Nya sejak dari semula.  Dan anugerah Allah itu merupakan janji yang mutlak dari Allah kepada manusia yang menjadi bagian dalam karya keselamatan itu.
Thomas Goadwim mengatakan bahwa:
Grace of God, and freating with in for is salvation that the absolute declaration of this free grace, or the absolute promises of the gospel, are the objek of fanth of recombence, or adherence that election grace, and the immutability of God counsel, as indifinitely in the promises are also the objek of fait.[31] (Anugerah Allah dan karya keselamatan merupakan penyataan mutlak dari anugerah yang bebas atau janji yang mutlak dari Injil merupakan objek tertinggi yang terbentang; atau kesetiaan bahwa pemilihan anugerah dan hikmat Allah yang kekal sebagai tujuan yang tidak terbatas dari janji yang merupakam sasaran iman).
Kristus datang  ke dalam dunia adalah anugerah yang terbesar bagi manusia. Mengapa demikian? Sebab kejatuhan manusia dalam dosa mengakibatkan manusia putus hubungan dengan Tuhan, manusia tidak bisa lagi menghampiri Allah yang Maha Kudus dan hanya layak untuk dihukum dan dimurkai. Akan tetapi harus diingat, bahwa kedatangan Kristus bukan untuk semua orang, melainkan hanya untuk mereka yang percaya kepada-Nya, yang telah dikhususkan untuk diselamatkan. Dalam hal ini, Edwin Palmer mengatakan bahwa, kaum Armenian percaya bahwa “Kristus mati untuk semua orang”, sedangkan kaum Calvinis menjawab dengan pernyataan, “Kristus mati hanya bagi orang-orang yang percaya kepada-Nya”. Kaum Armenian mempercayai penebusan universal, kaum Calvinis penebusan terbatas.[32] Lebih jelas lagi oleh John Calvin, di sana Allah merentangkan tangan-Nya kepada semua orang tanpa terkecuali, tetapi Dia hanya memegang (sedemikian rupa sehingga akan membawa mereka kepada-Nya) yang telah dipilih-Nya sebelum dunia dijadikan.[33]
Anugerah keselamatan bagi orang pilihan bukan saja diselamatkan, tetapi juga diangkat menjadi anak-anak kerajaan  Allah dan secara otomatis memperoleh kelahiran kembali. Dan karena itu kita semuanya dilayak untuk memanggil Dia sebagai Bapa kita. Di samping itu juga Allah memberikan Roh-Nya yang Kudus untuk membimbing kita menuju kedewasaan di dalam Tuhan. John R. W. Stott menjawab Bapa sorgawi bagi setiap orang percaya yaitu yang belum dewasa dalam Kristus (1. Kor. 3:1) menjadi sempurna dalam Kristus (Kol. 1:28). Kelahiran baru harus disusul dengan pertumbuhan. Pembenaran (Penerimaan kita di hadapan Allah) harus menuju pada proses penyucian (pertumbuhan kita dalam kesucian).[34] Kelahiran baru merupakan pengalaman dari keselamatan itu, yang mana dalam hal tersebut adanya kebangunan rohani atau kebangunan moral di dalam Tuhan. Dr. Peter Wongso mengatakan, bertobat adalah orang berdosa di dalam kegelapannya mendapat sinar terang dari Tuhan, lalu sadar akan jahat dan kejinya dosa, serta merasakan cinta kasih Tuhan.[35] Keselamatan adalah pemberian Allah dan bukan hasil usaha manusia dan itu diberikan karena semata-mata karena kasih dan anugerah Tuhan. Jelas bahwa dalam konteks ini Allah yang mencari dan mengasihi manusia bukan manusia yang mencari dan mengasihi Allah. Jelas sekali dengan apa yang dikatakan oleh Max Lucado, keselamatan adalah anugerah Allah, terdorong oleh Allah, berasal dari Allah. Pemberian itu bukan berasal manusia kepada Allah, tetapi berasal dari Allah kepada manusia. Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang mengasihi kita dan telah mengutus anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.[36]
3.    KASIH KARUNIA ATAU ANUGERAH ALLAH SECARA UMUM.
Berbicara mengenai kasih karunia atau anugerah Allah secara umum maka yang ingin dijelaskan dan ditekankan adalah kasih karunia yang bersifat universal dan menyeluruh. Anugerah ini diberikan kepada kepada segala makhluk ciptaan Tuhan dan kepada seluruh umat manusia secara menyeluruh tanpa terkecuali. Dalam hal ini, Louis Berkhof mengutip pembagian anugerah oleh Dr. H. Kuiper yang dibicarakan oleh Calvin, “Anugerah yang bersifat universal yaitu satu anugerah yang mencakup semua makhluk; anugerah yang menyeluruh yaitu anugerah yang diberikan kepada seluruh umat manusia secara menyeluruh dan bagi semua manusia”.[37] Anugerah umum ini merupakan pemberian Allah kepada semua makhluk secara universal dan kepada segala umat manusia secara menyeluruh.
Setelah Allah menciptakan langit dan bumi serta segala isinya, Ia tidak membiarkan ciptaan-Nya begitu saja melainkan tetap memelihara dan memberkatinya. Walaupun manusia sudah jatuh dalam dosa dan mengakibatkan bumi ini terkutuk, namun Ia tetap memelihara dan menganugerahkan berkat-berkat alamiah seperti hujan dan matahari, makanan dan minuman, pakaian dan tempat tinggal kepada semua manusia tanpa terkeculai.
Oleh karena dosa semua manusia tidak mempunyai kemampuan sedikit pun untuk menghasilkan yang baik untuk kelangsungan hidupnya, selain bergantung sepenuhnya kepada Allah. Betapa banyaknya yang Tuhan perbuat dalam hidup ini, Allah bekerja mencegah pengaruh yang merusak dan perkembangan dosa dalam dunia ini dan menjaga serta memperkaya dan mengembangkan kehidupan alamiah umat manusia secara umum dan pribadi lepas pribadi dalam konteks atau cakupan seluruh umat manusia. Jelas sekali bahwa berkat-berkat alamiah (natural) yang kita nikmati merupakan wujud anugerah Allah bagi manusia secara umum.
Akan tetapi Louis Berkhof mengatakan bahwa” harus juga diingat bahwa “gratia comunnis” walaupun secara umum menunjukan pada suatu anugerah yang umum bagi seluruh umat manusia, juga digunakan untuk menunjuk arti suatu anugerah yang umum bagi orang pilihan dan orang bukan pilihan yang hidup di bawah Injil.[38] Jadi, yang ditekankan adalah bahwa anugerah ini universal dan menyeluruh dalam arti mencakup orang-orang pilihan dan orang-orang yang bukan pilihan seperti yang terdapat dalam Ibr. 6:4-6. Anugerah Allah ini nyata dalam penciptaan dan pemeliharaan Allah dalam kehidupan manusia tanpa terkecuali.
Loraine Boettner mengatakan bahwa;
Common grace is the source of all the order, refnement, culture, common virtue, etc which we find in the world and trough it the moral power of the truth upon the heart and concience is increased in the evil passions.[39] (Anugerah umum adalah sumber dari semua susunan perbaikan, budaya, kebaikan umum, dan lain-lain yang mana kita temukan dalam dunia ini dan melalui kuasa moral kebenaran atas hati dan suara hati di tingkat dan nafsu orang yang jahat dikendalikan).
Anugerah umum diberikan kepada semua orang secara umum tanpa terkecuali, tidak mengampuni dan menyucikan keberadaan manusia yang telah berdosa dan tidak mengakibatkan keselamatan baginya.  Berkat-berkat umum bagi seluruh umat manusia secara tidak langsung dihasilkan dari penyelamatan manusia.  Dan sarana yang dipakai oleh anugerah umum adalah: terang wahyu Allah, pemerintahan dan pendapat umum.  Dengan terang wahyu-Nya Allah menyinari seluruh alam semesta dan wahyu itu berfungsi untuk membimbing hati nurani dari manusia itu sendiri.  Dan pemerintahan juga merupakan alat yang dipakai untuk menyalurkan anugerah umum itu sebab pemerintah itu merupakan atau ditunjuk oleh Allah sendiri dan barang siapa yang melawan pemerintah sama seperti memberontak peraturan yang ditetapkan oleh Allah.
4.     ALLAH TRITUNGGAL
Apa itu Allah Tritunggal?
Kata Tritunggal berasal dari bahasa Latin yakni “Trinitas” yang berarti ketigaan.  Dalam Alkitab yang adalah kitab suci agama Kristen mengajarkan bahwa dalam zat yang Ilahi yang esa, ada tiga pribadi yaitu Bapa, Anak dan Roh Kudus.  Dan ketiga Pribadi inilah yang biasa disebut sebagai Allah Tritunggal.  Allah Bapa adalah awal dari segala sesuatu.  Dialah Sang Pencipta langit dan bumi serta segala isinya.  Allah Anak adalah Firman yang telah menjadi daging, yang telah datang ke dalam dunia untuk menyelamatkan orang-orang yang telah dipilih-Nya, ditentukan-Nya dari kekal sampai kekal.  Dan Allah Roh Kudus adalah kekuatan dan kemampuan Allah yang tinggal di dalam umat-Nya.  Dia-lah yang mengerjakan keselamatan itu dalam hati dan hidup anak Tuhan serta menguduskan.  Guido de Bress mengatakan bahwa:
Sesuai dengan kebenaran dan Firman Tuhan, kita percaya kepada Allah yang Esa, yang adalah Zat yang Tunggal, yang di dalam-Nya ada tiga Pribadi, yang sungguh, benar-benar, dari kekekalan, berlainan menurut sifat-sifat Mereka, yang tidak sama-sama Mereka miliki, yaitu Bapa adalah sebab, asal dan awal segala hal, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan.  Anak adalah Firman, Hikmat, dan gambar Bapa.  Roh Kudus adalah kuasa dan kekuatan kekal yang keluar dari Bapa dan Anak.[40]

Allah Tritunggal merupakan Zat yang Tunggal dan Esa, yang di dalam-Nya terdapat tiga Pribadi, yang tidak terpisahkan dan juga tidak bisa untuk dibagikan, tetapi menjadi perbedaan adalah dalam sifat dan pekerjaan. Stephen Tong mengatakan “dan Allah yang Maha Esa itu mempunyai tiga Pribadi, bukan satu; pribadi pertama adalah Allah Bapa, Pribadi kedua adalah Allah Anak, dan Pribadi ketiga adalah Allah Roh Kudus. Tiga Pribadi bukan berarti tiga Allah dan satu Allah bukan berarti satu Pribadi”.[41]Lebih dipertegas oleh Thomas Watson bahwa:
God is but one, yet are theree distinct person subsisting in one godhead. This is a sacread mystry, which the light within man could never have discovered. As the two natures in christ, yet but one person, is a wonder; so theree person, yet but one Godhead. Here is agreat deep the Father God, the Son God, The Holy Spirit God. Yet not there Gods, but one God.[42](Tuhan hanya satu, namun ada tiga Pribadi yang berbeda dalam satu Allah yang Kudus. Hal ini adalah sebuah misteri yang suci, yang mana terang tidak pernah ditemukan dalam diri seorang. Seperti dua tabiat itu dalam Kristus, namun tetap satu Pribadi, suatu keajaiban. Oleh karena itu, tiga Pribadi namun satu ke-Allahan. Inilah satu hal yang besar dalam Allah Bapa, Allah Anak dan Roh Kudus. Namun bukanlah tiga Tuhan, tetapi hanya satu Allah.
Dr. Theol. Dieter Becker juga mengatakan bahwa, “Allah menjumpai kita dalam penyataan-Nya dengan tiga cara: Allah yang kekal yang kita ketahui berada di atas kita, tampak hidup di dalam Yesus Kristus di antara kita dan sekaligus mengerjakan dari kehadiaran-Nya di dalam kita”.[43]sangatlah jelas bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah yang menyatakan diri-Nya kepada tiga Pribadi dan menunjukan bahwa Allah yang Esa bekerja sama secara terpisah, karena kita ketahui bahwa Bapa adalah Pencipta, Anak adalah Juruselamat (Penebus) dan Roh Kudus adalah yang mengerjakan keselamatan itu dalam hati dan hidup kita. Bertolak dari hal tersebut menunjukan bahwa setiap Pribadi Allah memiliki peranan-Nya masing-masing.
Dalam hal ini juga A. A. Hodge mengatakan,
The Spirit procedes from the Father and the Son (John. 15:26). As He is personally related to the Father and the Son from eternity, so He eternally procedes from the Father and the Son. And He does so willing and freely in order to do His appointed work.[44](Roh meneruskan dari Bapa dan Anak (Yoh. 15:16). Ketika Ia secara Pribadi dihubungkan dengan Bapa dan Anak dari keabadian, maka Ia selamanya meneruskan dari Bapa dan Anak. Melakukan pekerjaan yang ditetapkan-Nya).


[1] G. I Williamson, Katekismus Singkat Westminster, pen: The Boen Ciok, Cet-1, Surabaya, Momentum, 1999, h. 24. 
[2] Louis Berkhof, Teologi Sistematika I: Doktrin Allah, pen. Yudha Thianto, Cet-6, Momentum,  (LRII), Surabaya, 2004, h. 108.
[3] Enam Belas Dokumen Dasar Calvinisme, Cet-1, Diseleksi: Th. Van den End, Jakarta, Gunung Mulia, 2000, h. 253.
[4] Louis Berkhof, Teologi Sistematika 1, Loc. Cit, h. 108.
[5] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru, Pen: Lisda Tirtapraja Gamadhi dkk, Cet-5, Gunung Mulia, Jakarta, 1996, h. 73.
[6] Louis Berkhof, Teologi Sistematika I, Loc. Cit, h. 114.
[7] Robert Shaw, Exsposition of the Wesminster Confession of Faith, 1999, pg. 66.
[8] Ibid.
[9] A. W, Tozer, The Knowledge Of The Holy, New York: Harper and Row, 1961, pg. 157.
[10] Louis Berkhof, Teologi Sistematika I, Loc. Cit, h. 117.
[11] R. L. Dabney, Loc. Cit. 17.
[12] Henry C. Thiessen, Teologi Sistematika, Cet-4, Gandum Mas, 1997, h. 130.
[13] Enam Belas Dokumen Calvinisme, Op. Cit, h. 8.
[14] Louis Berkhof, Teologi Sistematika I, Op. Cit, h. 118.
[15] Yakub B. Susabda, Op. Cit, h. 166.
[16] J. Verkuyl, Aku Percaya, Pen: Soegiart, BPK. Gunung Mulia, Jakarta, 1981, h. 40.
[17] Louis Berkhof, Teologi Sistematika 1, Loc. Cit. h. 119.
[18] Philip Yancey, What’s So Amazing About Grace? (Grand Rapids), 1997, pg, 70.
[19]Louis Berkhof, Teologi Sistematika 1, Loc. Cit. h. 121.
[20]Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru: Misi Kristus, Roh Kudus, Kehidupan Kristen, Pen: Jan S. Aritonang, Cet-4, Jakarta, Gunung Mulia, 1996, h. 248.
[21] H. Hadiwijono, Iman Kristen, Cet-12, Gunung Mulia, Jakarta, 1999, h. 90.
[22] James M. Boice, Foundation of The Christian Faith, Downers Grove, IL.: IVP, 1986, pg. 126.

[23] Emil Bruner, The Christian Doctrin of God Dogmatics, vol 1, Trans. Olive Wyon, Phil: Westminster Press, 1950, h. 160.
[24] William W. menzies dan Stanley M. Horton, Doktrin Allah, cet-1, Gandum Mas, 1998, h. 53.
[25] Ichwei. G. Indra, Teologi Sistematis: Pengetahuan Lanjutan bagi Kaum Awam dan anggota Gereja, Yayasan Literatur Baptis, Bandung, 1999, h. 71.
[26]Stephen Tong, Dosa, Keadailan dan Penghukuman, Cet-1, LRII, Jakarta, 1993, h. 28.
[27]R . Soedarmo, Ikhtisar Dokmatika, Cet-5, Gunung Mulia, Jakarta, 1985, h. 89.
[28] Herman Bavinck, The Doctrine of God, Grand Rapids, Mich: Baker, 1951, pg. 22.
[29] Duane Edward Spenser, TULIP: The Five Point of Calvinis in the Light of Scripture, Cet. Ke-18, USA, 1998, page 44.
[30] Louis Berkhof, Teologi Sistematika 4: Doktrin Keselamatan, Pen: Yudha Thianto, Cet. Ke-1, Lembaga Reformed Injili Indonesia, Jakarta, 1997, h.32-33.
[31]Thomas Goadwim, D. D., Justifyng, Vol. 8, USA, Pennsyluanis, First Bennor of Truth Edition, pg. 194.
[32] Edwin Palmer, Lima Pokok Calvinisme, Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1996, h. 9.
[33] John Calvin, Commentary on the First and Second Epistles of Peter, Pen: William B. Johnston, Grand Rapids: Eerdmans, 1963, h. 364.
[34] John R. W. Stott, Kedaulatan dan Karya Kristus, Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, Jakarta, 2000, h. 171.
[35] Peter Wongso, Soteriologi (Doktrin Keselamatan), Cet-4, Seminar Alkitab Asia Tenggara, Malang, 1998, h. 50.
[36] Max Lucado, Dalam Cengkeraman Kasih Karunia, Edtr: Lyndon Saputra, 1997, h. 88.
[37] Louis Berkhof, Teologi Sistematika 1, Loc, Cit, h. 49.
[38]Ibid,h. 51.
[39] Loraine Boettner, The Reformed Doctrine of Predestination, 1997, page 47.
[40] Th. Van den end, loc.cit, h. 24
[41]Stephen Tong, Allah Tritunggal, cet-2, Momentum, Jakarta, 1993, h. 30.
[42] Thomas Watson, A Body of Divinity, cet-1, The Barth Press, 1997, h. 108-109.
[43] Dieter Becker, Pedoman Dogmatika, cet-3, Gunung Mulia, 1996, h. 64.
[44] A. A. Hodge, Outlines of Theology, First Published by the Banner of Truth Trust, 1991, Page. 12.

Tidak ada komentar:

Kata kata

Cintailah seseorang sepenuhnya, termasuk kekurangannya, dan suatu saat kamu akan pantas mendapatkan yang terbaik darinya.

SESUATU YANG BERHARGA

Terkadang, Tuhan menghilangkan sesuatu yang sangat berarti dari genggamanmu, agar kamu menyadari kesalahan dan berubah menjadi lebih baik.