aMSaL

Bagi dunia kita hanyalah seseorang, bagi seseorang kitalah dunianya

Rabu, 24 Oktober 2012

Penciptaan


I.              Arti
Penciptaan adalah karya Allah Tritunggal yang terdapat dalam Alkitab Perjanjian Lama dalam pasal yang pertama dan ayat yang pertama yang menciptakan riwayat penciptaan sesuatu yang tidak ada atau kosong hanya dengan firmanNya maka segala sesuatu menjadi ada.
Di dalam berbicara tentang penciptaan, maka hal ini tidak terlepas dari kemahakuasaan Allah sebagai Pencipta Langit dan Bumi dan segala sesuatu yang ada di dalamnya. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata penciptaan berasal dari kata dasar “cipta” yang artinya “kesanggupan untuk mengadakan sesuatu yang baru”, dan dari kata kerja “menciptakan” yang artinya “menjadikan sesuatu yang baru tidak dengan bahan” atau membuat (mengadakan) sesuatu yang baru (belum pernah ada, luar biasa). Jadi penciptaan bisa didefinisikan sebagai suatu proses, pembuatan, cara menciptakan sesuatu yang baru tidak dengan bahan.[1]
      Penciptaan berkaitan dengan pekerjaan Allah sesuai dengan rencana-Nya, dan untuk melaksanakan rencana-Nya dimulai dari penciptaan bumi yang kosong, artinya dari tidak ada menjadi ada, dan diciptakan-Nya segala sesuatu tanpa bahan baku. Manusia tidak dapat mengerti dengan akal budi tentang penciptaan bumi yang kosong, oleh sebab itu adalah pekerjaan Allah yang melampaui segala akal dan pikiran manusia dan manusia tidak mempunyai hak untuk mengetahui hal itu sebab manusia adalah ciptaan-Nya yang berada di bawah kuasa Allah.
J. L. Ch. Abineno, menyatakan bahwa: Salah satu hal yang menarik perhatian dalam ceritera penciptaan ini ialah, bahwa penciptaan Allah (dengan perkataan) selalu dimulai dengan suatu formula yang tetap: “Berfirmanlah Allah: Hendak…dan jadilah demikian”. Skema atau bagan ini adalah sesuatu yang khas untuk Kejadian 1.[2] Allah menciptakan langit dan bumi beserta isinya, tidak diciptakan dengan perantara, tetapi diciptakan dengan kemahakuasaan-Nya melalui Firman-Nya dijadikan-Nya segala sesuatu di bawah kuasa-Nya.
Yohanes Calvin menyatakan:
Supaya kita menerima dengan iman yang benar apa yang perlu diketahui mengenai Allah, kita pertama-tama harus memperhatikan riwayat penciptaan dunia. Dari situ kita akan tahu bahwa Allah dengan kekuatan Firman dan Roh-Nya telah menciptakan langit dan bumi dari ketiadaan dan bahwa dari langit dan bumi itu telah dibuat-Nya segala jenis binatang serta ciptaanyang tak bernyawa, bahwa telah dibeda-bedakan-Nya, dengan tertib yang mengagumkan, keanekaragaman benda yang tak terhingga yang kita lihat itu, bahwa setiap jenis diberi-Nya sifat sendiri, bahwa telah ditetapkan-Nya tugas mereka, bahwa telah ditentukan-Nya tempat dan rumah bagi mereka.[3]
       Bahwa dunia dengan segala isinya diciptakan oleh Tuhan Allah dengan kebesaran dan kemahakuaasaan-Nya, maka dapat diyakini dengan iman yang benar melalui kesaksian Alkitab yang ditulis oleh para Nabi Allah, bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dan menetapkan apa yang harus mereka lakukan serta menentukan tempat dan rumah bagi mereka sesuai dengan rencana dan kehendak-Nya dari semula dengan tujuan untuk memuliakan diri-Nya.
R. L. Dabney menyatakan,
The words rendered to create, cannot be considered, in their etymologi and usage, very distinctive of the nature of the act. The authorities ברא mean “to cut or cauve”, primarily, (from the idea of spilitting of parts, or separation) hence “to fashion”, then to “create”, and thence the more derivative sense of producing or generating, regenerating the heart. [4] Kata-kata yang diberikan untuk membuat, tidak dapat dianggap, dalam etymologi dan penggunaan, yang sangat khas dari sifat perbuatan. Pihak berwenang ברא berarti "untuk memotong atau cauve", terutama, (dari ide bagian, atau pemisahan) maka "ke mode", lalu "menciptakan", dan dari situ arti yang lebih turunan dari memproduksi atau menghasilkan, regenerasi jantung.

Sementara itu J. Verkuyl menyatakan,
“Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” Alkitab (Kitab Kejadian) mulai dengan kata-kata yang hebat ini. Alkitab mengajar kita untuk melihat seluruh alam semesta. Alkitab mengarahkan pandangan kita kepada bintang-bintang dan planit-planit, gunung-gunung dan padang gurun, laut dan sungai, tumbuh-tumbuhan dan hewan, manusia dan malaikat.[5]
     Kata-kata dalam Kitab Kejadian 1:1 menurut J. Verkuyl, merupakan kata-kata yang sangat mengagumkan, di mana dalam kata-kata tersebut memperlihatkan kemahakuasaan dan kemahabesaran Allah sebagai Pencipta Langit dan Bumi, Laut dan segala isinya. Dalam Perjanjian Lama dapat ditemukan kata kerja dalam bahasa Ibrani “bara”, yang artinya membangun, membentuk, menciptakan. Kata ini hanya menunjuk kepada Allah saja sebagai Pencipta Langit dan Bumi dan segala isinya, tidak ditujukan kepada makhluk lain.
Herman Bavinck menjelaskan:
Karya Allah ke luar dimulai dengan penciptaan. Penciptaan adalah penyataan pertama Allah, permulaan dan pondasi seluruh penyataan berikutnya. Konsep alkitabiah tentang penyataan berakar di dalam konsep penciptaan tersebut. Allah pertama kali menampakan diri ke luar di hadapan ciptaan-ciptaan-Nya dalam penciptaan dan menyatakan diri kepada mereka. Dalam menciptakan dunia dengan firman-Nya dan menjadikannya hidup oleh Roh-Nya, Allah telah menggambarkan kontur-kontur dasar seluruh penyataan selanjutnya.[6]
    Dunia yang teratur ini sebenarnya keluar atau muncul dari suatu kekacauan, atau diatur dari suatu keadaan yang semula kacau-balau, di mana tidak ada kemungkinan hidup, hingga menjadi dunia yang teratur dengan kemungkinan hidup. Berita tentang penjadian yang demikian itu masih juga menggema dalam Mzm. 33:6, 7, yang mengatakan, bahwa oleh firman Allah Langit telah dijadikan, oleh nafas dari mulut-Nya dan bahwa Allah telah mengumpulkan air seperti dalam bendungan, dan menaruh samudera raya ke dalam wadah. Sekalipun bumi berada di dalam lautan yang besar, namun kokoh juga, sebab Tuhan Allah telah memberikan dasar atau alasnya.
Stephen Thong, menulis tentang penciptaan bahwa: Tuhan Allah menciptakan segala sesuatu tercantum dalam Kitab pertama dan ayat pertama dari Alkitab ‘in the begining God created heaven and earth’ pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Allah menciptakan segala sesuatu. Kata “menciptakan” yang dipakai dalam Alkitab bahasa Ibrani untuk kejadian 1:26, 27 memakai kata “menciptakan” yang sama untuk kejadian 1:1 yaitu “bara”, “yatsag” dan “asyah”. Untuk kejadian 1:1 dan 26 menggunakan kata “bara” berarti menciptakan sesuatu dari yang tidak ada, istilah “bara” berarti menunjuk yang dicipta adalah suatu makhluk yang baru yang belum pernah ada.[7]

Penciptaan langit dan bumi adalah pekerjaan Allah yang obsolut dan hal ini hanya dapat dipercaya dengan iman. Thomas Watson menulis “the work of the creation is God’s making all things from nothing by the world of his power ben in the begining God created the heaven and the earth”.[8] (Terj. Pekerjaan penciptaan adalah perbuatan Tuhan dari yang tidak ada menjadi ada hanya dengan kuasa dan FirmanNya melalui penciptaan surga dan bumi). Menurut riwayat penciptaan Allah menciptakan langit dan bumi seperti pernyataan:
S. Wismoady Wahono, berkomentar bahwa: “cerita penciptaan itu merupakan cerita pengajaran yang sangat indah dari para imam Israel. Bentuknya seperti puisi, pujian dengan sistematika yang cermat, dan memanfaatkan kata-kata serta ucapan yang sama. Hal itu Nampak dalam kata-kata “Berfirmanlah Allah…. Dan jadilah demikian”. “jadilah petang dan jadilah pagi….”. uraian kata-kata itu sama sekali tidak mempunyai maksud historis atau ilmiah berdasar dan untuk imam”.[9]

Inti pernyataan kitab kejadian 1 ialah “pada mulanya Allah menciptakan” (kej 1:1), dan pada akhir pekerjaanNya dia menciptakan manusia. Herman bavink menulis: “The begining of the carrying out of this counsel of the Lord was the creation of the world just us the holly scripture a loae can give  Us to know the counse lof God so they all show us the origin of all thing’s telling Us of God’s creative omni potence”.[10] (Terj. Permulaan dalam penciptaan Allah adalah menciptakan langit dan bumi demikian juga dalam kitab bagaimana kemahakuasaan Allah dalam menunjukkan penyelesaian penciptaan pada mulanya).
            Dengan demikian inti ajaran Kristen tentang kejadian ialah bahwa Allah sendiri adalah mula dan pelaku tunggal kejadian itu, dan manusia adalah puncak dari makhluk yang diciptakanNya. J. Wesley brill berpendapat bahwa “Tuhan allah Tritunggal, oleh kehendaknya sendiri dan kemuliaanNya sendiri telah menciptakan alam semesta tanpa menggunakan sesuatu benda baik yang kelihatan maupun tidak kelihatan.[11] Pada kurun waktu antara mula penciptaan dan puncaknya terjadi proses berangsur-angsur dalam tahapan kejadian 1, tahap-tahap selalu ada mulanya dan di bawah perintah Firman Allah yang menciptakan (Berfirmanlah Allah).
William Frans mengatakan bahwa: “Creation is the efficiency of God where by in the begining out of nothing the mathe the world to be altogether good”.[12] Terj. Ciptaan adalah karya Tuhan Allah dimana dari permulaan Allah menciptakan dari kosong atau tidak ada apapun dibuat menjadi ada dan semua itu diciptakan dengan amat baik.

II.           Proses
6 Hari penciptaan :
Hari 1 : langit dan bumi diciptakan dan “Jadilah terang”.
Hari 2 : Allah menciptakan cakrawala
Hari 3 : daratan dipisahkan dengan lautan; tumbuh2an diciptakan
Hari 4 : Matahari, bulan dan bintang diciptakan
Hari 5:
 Binatang di lautan dan burung di udara
Hari 6 : Binatang dibumi, ternak dan binatang melata, Manusia pertama diciptakan (Adam dan Hawa)

III.        Waktu
Kata "hari" dalam Kejadian 1 berasal dari kata Ibrani yom. Kata ini dapat berarti 1 hari (dengan pengertian biasa 1 hari = 24 jam), ½ hari ( 12 jam) dari 24 jam (maksudnya siang, bukan malam), atau biasanya suatu periode waktu yang tidak terbatas (contoh "pada jaman hakim-hakim" atau "pada harinya Tuhan"). Tanpa pengecualian, pada Perjanjian Lama kata yom dalam bahasa Ibrani tidak pernah digunakan untuk menunjukkan periode waktu yang panjang dan terbatas dengan permulaan yang spesifik sampai titik akhirnya. Lebih jauh lagi kita harus mengingat bahwa ketika kata yom digunakan dalam arti periode waktu yang tidak terbatas, hal itu sangat jelas terlihat dalam konteksnya. Jadi kita dapat dengan mudah membedakan yom yang berarti 24 jam atau siang hari dengan periode waktu yang tidak terbatas.
Mengapa 6 hari ?
Keberadaan Tuhan adalah tanpa batas. Ini berarti Dia mempunyai kekuatan yang tak terbatas, pengetahuan yang tak terbatas, kebijaksanaan yang tak terbatas, dll. Jelasnya, Tuhan dapat membuat apa saja yang Dia inginkan dalam waktu sekejap. Dia dapat menciptakan seluruh alam semesta, bumi dan semua isinya dalam waktu sekejap. Mungkin pertanyaannya adalah mengapa Tuhan memakai waktu selama 6 hari ? Bukankah 6 hari adalah waktu yang panjang untuk Tuhan yang tak terbatas untuk membuat apapun juga ? Jawabannya dapat ditemukan di kitab Keluaran 20:11.
Keluaran 20 berisi 10 hukum Taurat. Haruslah diingat bahwa hukum-hukum ini ditulis di atas batu oleh "jari Allah", seperti yang kita baca dalam Keluaran 31:18 "Dan TUHAN memberikan kepada Musa, setelah Ia selesai berbicara dengan dia di gunung Sinai, kedua loh hukum Allah, loh batu, yang ditulis oleh jari Allah." Hukum ke-4 di pasal 20 ayat 9 memberitahukan kepada kita bahwa kita bekerja selama 6 hari dan beristirahat 1 hari. Hal ini lebih diperkuat dalam ayat 11 , "Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya." Ayat ini adalah referensi langsung untuk minggu penciptaaan yang dilakukan Allah dalam Kejadian 1. Agar konsisten (dan kita seharusnya juga), apapun arti yang dipakai untuk kata hari dalam kejadian 1 harus juga dipakai di dalam ayat ini. Jika anda ingin mengatakan kata hari dalam Kejadian berarti periode waktu yang panjang, tentulah artinya hari tersebut adalah periode waktu yang tidak terbatas atau tidak pasti - bukan periode waktu yang terbatas (lihat paragraf pertama subheadline Apakah "hari" itu ?). Dengan demikian arti dari Keluaran 20:9-11 haruslah "enam periode waktu yang tidak terbatas lamanya engkau harus bekerja dan beristirahat pada satu periode waktu yang tak terbatas.! Hal ini sangat tidak masuk akal. Dengan menerima hari-hari tersebut sebagai hari-hari yang biasa, kita dapat mengerti bahwa Tuhan sedang memberitahukan kita bahwa Dia bekerja selama enam hari biasa dan beristirahat selama 1 hari biasa untuk memberikan pola kepada manusia - pola (pattern) 7 hari dalam seminggu yang masih berlaku sampai sekarang ! Dengan kata lain, dari Keluaran 20, kita belajar alasan Tuhan memerlukan waktu yang lama, yaitu 6 hari untuk membuat segalanya, adalah bahwa Dia membuat pola untuk kita ikuti, pola kerja yang masih kita ikuti sampai sekarang !

Satu hari adalah seribu tahun
Ada pendapat yang mengacu bahwa II Petrus 3:8 memberitahu kita, "bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari." Ayat ini digunakan oleh banyak orang yang mengajarkan, atau  paling tidak menarik kesimpulan, bahwa hari-hari dalam Kejadian pastilah masing-masing sama dengan seribu tahun. Hal ini juga salah. Bila kita melihat pada Mazmur 90:4, kita membaca sebuah ayat yang sangat jelas, "Sebab dimataMu seribu tahun sama seperti hari kemarin, apabila berlalu, atau seperti suatu giliran jaga di waktu malam."
Pada kedua ayat tersebut seluruh konteknya mempunyai maksud bahwa Tuhan tidak dibatasi oleh waktu maupun proses-proses alamiah. Tuhan itu melampaui waktu karena Dialah yang menciptakan waktu. Dalam ayat-ayat tersebut tidak ada satu petunjuk pun yang mengacu pada hari-hari penciptaan yang terdapat dalam Kejadian, karena kedua ayat tersebut bermaksud memberitahu bahwa Tuhan tidak terikat oleh waktu. Dalam II Petrus 3, konteksnya berhubungan dengan kedatangan Kristus yang kedua kali, menunjukkan fakta bahwa bagi Tuhan satu hari serasa seribu tahun atau seribu tahun serasa satu hari berarti Tuhan tidak dipengaruhi oleh waktu. Hal ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan hari-hari penciptaan dalam Kejadian.
Lebih jauh lagi dalam II Petrus 3:8, kata hari dibandingkan dengan seribu tahun. Kata hari mempunyai arti harafiah hingga dapat dibandingkan dengan "seribu tahun". Ia tidak bisa dibandingkan dengan seribu tahun jika tidak mempunyai arti harafiahnya. Maka, kata hari di ayat ini bukan didefinisikan sama dengan "seribu tahun" tetapi hanya dibandingkan dengan ungkapan "seribu tahun". Dengan demikian tujuan dasar dari pesan Rasul Petrus adalah Tuhan mampu melakukan, dengan waktu. yang sangat pendek, apa yang dapat manusia/alam lakukan dalam waktu yang sangat panjang. Para evolusionis berusaha membuktikan bahwa proses-proses berurutan dari alam untuk menghasilkan manusia memerlukan waktu jutaan tahun. Banyak orang Kristen telah menerima konsep jutaan tahun ini, menambahkannya ke dalam Alkitab, kemudian berkata bahwa Tuhan memerlukan jutaan tahun untuk membuat semuanya itu. Tetapi, inti dari II Petrus 3:8 adalah bahwa Allah tidak dibatasi oleh waktu sementara evolusi memerlukan banyak sekali waktu.
Juga ada satu catatan penting untuk diperhatikan yaitu di bagian II Petrus sebelum kalimat "satu hari sama seperti seribu tahun," kita diberitahu bahwa "... akan tampil pengejek-pengejek dengan ejekan-ejekannya, yaitu orang-orang yang hidup menurut hawa nafsunya. Kata mereka : ‘Dimanakah janji tentang kedatanganNya itu? Sebab sejak bapa-bapa leluhur kita meninggal, segala sesuatu berjalan tetap seperti semula pada waktu dunia diciptakan.’ " (II Petrus 3:3,4).
Dengan demikian, pada hari-hari akhir orang-orang akan mengatakan bahwa segala sesuatu terus berjalan - sama seperti yang dikatakan para evolusionis bahwa segala sesuatu telah berjalan selama jutaan tahun. Orang-orang ini tidak percaya bahwa Tuhan campur tangan dalam sejarah. Pernyataan "segala sesuatu berjalan tetap seperti semula pada waktu dunia diciptakan" dapat didefinisikan sebagai konsep modern tentang uniformitarianism. Ini adalah pandangan yang lazim dalam ilmu geologi sekarang ini : bahwa "masa kini adalah kunci dari masa lalu" (bahwa dunia sudah berjalan jutaan tahun dengan cara yang sama seperti yang kita lihat terjadi sekarang ini). Hal ini benar-benar dasar dari geologi evolusi modern. Kebanyakan geologis modern tidak percaya bahwa Tuhanlah yang menciptakan dunia ribuan tahun yang lalu, tetapi bahwa dunia ini adalah sebuah produk dari proses selama jutaan tahun. Tuhan memberitahu kita dengan cukup jelas bahwa Dia menciptakan segalanya dalam 6 hari, dan Dia mengunakan waktu selama itu karena alasan khusus seperti yang dijelaskan dalam Keluaran 20.

Hari dan Tahun-tahun
Dalam Kejadian 1:14 kita membaca bahwa Tuhan berkata, "Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun." Jika kata "hari" di sini bukan berarti hari secara harafiah, maka kata "tahun-tahun" yang digunakan pada ayat yang sama akan menjadi tidak mempunyai arti.

Hari dan Perjanjian Tuhan
Melihat Yeremia 33:25-26, kita membaca, "Beginilah firman TUHAN: Jika Aku tidak menetapkan perjanjianKu dengan siang dan malam dan aturan langit dan bumi, maka juga Aku pasti akan menolak keturunan Yakub dan hambaKu Daud, sehingga berhenti mengangkat dari keturunannya orang-orang yang memerintah atas keturunan Abraham, Ishak dan Yakub. Sebab Aku akan memulihkan keadaan mereka dan menyayangi mereka."
Di sini Tuhan memberitahu Yeremia bahwa Dia mempunyai perjanjian dengan siang dan malam yang tidak bisa dilanggar, karena berhubungan dengan janji kepada keturunan Daud - termasuk seseorang yang telah dijanjikan menerima mahkota (Kristus). Perjanjian antara Tuhan dengan siang dan malam ini bermula dari Kejadian 1, karena Tuhan pertama kali mendefinisikan siang dan malam ketika Ia menciptakan mereka. Jadi jika perjanjian antara siang dan malam ini tidak ada walaupun Tuhan dengan jelas berkata ada (jika anda tidak menerima Kejadian 1 secara harafiah), maka janji yang diberikan melalui Yeremia menjadi tidak berlaku.

Apakah hari berpengaruh ?
Akhirnya, apakah jadi soal jika kita menerima hari-hari itu secara harafiah atau tidak ? Jawabannya secara pasti adalah "Ya"! Hal ini menjadi suatu prinsip pendekatan seseorang terhadap Alkitab. Sebagai contoh, jika kita tidak menerima mereka sebagai hari-hari biasa, maka kita harus bertanya, "Apakah mereka?" Jawabannya "Kita tidak tahu". Jika pendekatan kita seperti itu, maka secara logis kita harus melakukan pendekatan terhadap bagian lain dalam kitab Kejadian dengan cara yang sama (harus konsisten). Sebagai contoh, ketika dikatakan bahwa Tuhan mengambil debu tanah dan membuat Adam - apa maksudnya ? Jika artinya tidak secara harafiah, maka kita tidak tahu apa artinya! Maka sangat penting menerima kitab Kejadian secara harafiah. Lebih jauh lagi, perlu diingat bahwa anda tidak dapat menafsirkan secara harafiah karena penafsiran harafiah berkontradiksi. Anda harus menerimanya secara harafiah atau menafsirkannya! Sangatlah penting untuk menyadari bahwa kita harus menerimanya secara harafiah kecuali kata itu secara jelas berupa simbol, dan jika memang demikian, konteksnya akan membuat arti kata itu menjadi jelas atau kita diberitahu demikian oleh teksnya.
Jika seseorang menerima bahwa kita tidak tahu arti dari kata hari dalam Kejadian, maka dapatkah orang lain yang berkata bahwa kata itu berarti hari biasa dituduh salah ? Jawabannya adalah "tidak", karena orang yang menerima kata itu sebagai hari biasa tidak tahu apa artinya. Terlebih lagi, orang yang pertama tadi, yang tidak tahu apa arti hari, tidak bisa menuduh orang lain salah !
Ketika orang menerima apa yang diajarkan dalam kitab Kejadian apa adanya, dan menerima hari sebagai hari biasa, mereka tidak akan menemui kesulitan dalam mengerti apa yang ingin disampaikan dalam sisa kitab Kejadian (Kej 2-50).

"Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya" (Keluaran 20:11)

Artikel ini diterjemahkan dari buku The Answers Book, hal. 89-101, karangan : Ken Ham, Andrew Snelling, and Carl Wieland, Penerbit : Master Books, 1992.

IV.        Sifat
V.           Manfaat
VI.        Tujuan


[1] Kamus Besar Bahasa Indonesia, Peny. Anton M. Muliono,dkk, cet ke-9, Balai Pustaka, Jakarta, 1997, h. 191.
[2] J. L. Ch. Abineno, Manusia dan sesamanya di dalam Dunia, cet. Pertama, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1987, h. 7.
[3] Yohanes Calvin, Institution, peny. Th. Van den End, pen. Winarsih Arifin, J. S. Aritonang, Th. Van den End, cet. BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2003, h. 33.
[4] R. L. Dabney, Systematic Theologi, The Banner of Truth Trust, 1985, pg. 247.

[5] J. Verkuyl, Aku Percaya, peny. Soegiarto, cet ke-16, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1995, h. 50.
[6] Herman Bavinck, Dokmatika Reformed, cet. Pertama, Momentun, Surabaya, 2011, h. 369.
[7]  Stephen Tong, Peta dan Teladan Allah, cet-2, Lembaga Reformed Injili Indonesia, Jakarta, 1994, h. 2.
[8]  Thomas Watson, A Body Of Divinyif, Contaned seremonds, Rapids 10, The Banner Of Trust 3 Murray Field road, U.S.A, 1997, pg. 113.
[9]  Wismoady Wahono, Di sini kutemukan: Petunjuk Mempelajari dan Mengajarkan Alkitab, cet-1, Jakarta, BPK Gunung Mulia. 1986, h. 79.
[10]  Herman Bavink, Our Resonable Faith, Fourth Printing, New York Westminter Discount Book Service, 1984. page. 164.
[11]  J. Wesley Brill, Dasar Yang Teguh, Bandung, Yayasan Kalam Hidup, t.t., h. 66.
[12]  William Frans, The Morrow of theology, second printing, Baker Books, Grand Rapinds, Michigan, 1997, pg. 100.

HASRAT UNTUK BERUBAH


Ketika aku masih muda dan bebas berkhayal, aku bermimpi ingin
mengubah dunia.
Seiring bertambahnya usia dan kearifanku, kudapati dunia tak kunjung
berubah.
Maka, cita-cita itu agak kupersempit, lalu kuputuskan hanya
mengubah negeriku.

Namun tampaknya, hasrat itu pun tiada hasilnya.


Ketika usiaku telah semakin senja, dengan semangatku yang masih

tersisa,
kuputuskan mengubah keluargaku, orang-orang yang paling
dekat denganku.

Tetapi celakanya, mereka pun tidak mau berubah.


Dan kini ... sementara aku terbaring saat ajal menjelang, tiba-tiba

kusadari: "Andaikan yang pertama-tama kuubah adalah diriku, maka
dengan menjadikan diriku panutan, mungkin akan bisa mengubah
keluargaku.
Lalu, berkat inspirasi dan dorongan mereka, bisa jadi
aku mampu memperbaiki negeriku. Kemudian siapa tahu, aku bahkan bisa
mengubah dunia."


Sumber:
Terjemahan dari sebuah puisi yang terukir di suatu makam
di Westminter, Inggris (1100 M)

Minggu, 07 Oktober 2012

PERSATUAN ORANG PERCAYA DENGAN KRISTUS BERDASARKAN INJIL YOHANES 15:1-8


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Persatuan  orang  percaya  dengan  Kristus  merupakan suatu doktrin yang terletak pada inti kehidupan Kristen, dan terkait secara erat dengan doktrin lain yang dibicarakan oleh teolog-teolog sejauh ini.  Doktrin persatuan antara orang percaya dengan Kristus merupakan penghubung yang menghubungkan semua doktrin bersama-sama dalam satu keharmonisan yang menyeluruh. Kebenaran yang terus-menerus  ini dalam Perjanjian Baru disebutkan dengan jelas bahwa sebagai orang-orang Kristen sejati mereka dipersatukan dengan Kristus.  Jhon Murray menyatakan bahwa, kesatuan dengan Kristus sungguh-sungguh merupakan kebenaran sentral dari seluruh doktrin keselamatan, bukan hanya soal penerapannya, tetapi juga soal penggenapannya melalui karya Kristus yang terjadi satu kali dan  untuk selamanya.[1]
Persatuan  orang  percaya  dengan Kristus  merupakan seluruh penerapan karya keselamatan Allah bagi orang berdosa dan dibenarkan oleh Dia dengan keadilan-kebenaran-Nya sendiri. 
Persatuan orang  percaya  dengan  Kristus  ini merupakan dasar dari semua pengalaman rohani dan semua berkat bagi orang percaya. Persatuan dengan Kristus seringkali digambarkan dalam Alkitab sebagai keberadaan orang percaya “di dalam Kristus.” [2]  Sedangkan Sinclair B. Ferguson dengan mengutip perkataan Paulus, menjelaskan sebagai berikut, 
Paulus menyebut dengan istilah “orang-orang kudus,” orang-orang yang dipisahkan oleh dan bagi Allah, dan dia secara bervariasi menyebut mereka sebagai orang-orang yang ada “di dalam Kristus” atau  “di dalam Kristus Yesus” atau “di dalam Tuhan Yesus Kristus” ( 1Kor.1:2; Ef.1:1; Flp. 1:1; Kol. 1:2; 1Tes. 1:1; 2 Tes. 1:1).[3]

Penjelasan di atas dapat dimengerti bahwa Persatuan orang percaya dengan Kristus  memiliki kesatuan yang vital dengan Kristus dalam karya-Nya sebagai Pengantara.  Sebagai konsekuensinya orang-orang percaya juga memiliki persekutuan dengan sesamanya dalam karunia dan  anugerahnya  masing-masing. Persekutuan ini menimbulkan suatu pengikat tertentu di antara orang-orang percaya dan bahwa kesatuan dan persekutuan dengan Kristus yang dinikmati orang-orang percaya tidak berarti bahwa orang-orang percaya menjadi ilahi, atau setara dengan Kristus, dan bukan pula berarti persekutuan di antara orang-orang percaya meniadakan hak milik harta pribadinya.
Gagasan tentang persatuan dan persekutuan merupakan inti pandangan Perjanjian Lama mengenai hubungan Allah dengan umat-Nya. Salah satu gambaran yang menyatakan hal ini adalah gambaran tentang  kovenan.
Kovenan Allah dengan umat-Nya disejajarkan dengan ikatan pernikahan dan diinterpretasikan menurut pengertian dari pernikahan tersebut.
Kovenan ini sesungguhnya adalah suatu janji keselamatan, yang diisyaratkan dalam Kejadian 3:15, di mana dinubuatkan bahwa salah seorang keturunan Hawa di masa depan akan secara fatal membinasakan si ular yang mewakili Iblis, dan dalam Kejadian 2:21, di mana Allah mencurahkan darah binatang dan menutupi Adam dan Hawa dengan kulitnya, suatu antisipasi simbolik tentang pencurahan darah Anak Domba di atas salib untuk menutup dosa manusia. Janji Allah dinyatakan lebih lanjut dalam Kejadian 12:1-3, 13:15, dan 15:18, dan berkembang terus dalam sisa Perjanjian Lama. Yesaya 26-29; Yehezkiel 38, dst.; Daniel 2, 7, 12; Zakharia 14, dsb.  Bandingkan Kebijaksanaan Salomo 17-18; 4 Ezra 12-13.[4]
 Ini adalah salah satu bagian dari latar belakang Kitab Yesaya yang paling menggentarkan, di mana  nabi berbicara mengenai Pencipta Israel sebagai suami yang membuktikan kesetiaan-Nya ditengah-tengah ketidaksetiaan Israel (Yes. 54:5-8), Nabi Yeremia berbicara mengenai Allah sebagai suami umat-Nya  (Yer. 31:32), dan  Kitab Hozea dibangun di atas konsep ini.
Kovenan  Allah disejajarkan dengan  ikatan pernikahan, hal ini merupakan perumpamaan dan  bahwa pasangan yang diikatkan dalam pernikahan sejati di depan jemaat dan dihadapan Tuhan tidak boleh diceraikan oleh manusia dengan berbagai alasan apa pun. Karena dalam pernikahan itu dihubungkan di dalam Kristus, telah dipersatukan di dalam Dia. Inilah salah satu gambaran bahwa orang percaya berada di dalam Kristus dan Kristus di dalam orang percaya. Dengan demikian, dituntut bahwa mereka yang dipersatukan oleh Kristus harus saling mengasihi dan tidak boleh menjauhi/bercerai satu sama lain. Herman Ridderbos menyatakan bahwa, pernikahan di dalam Tuhan adalah  prinsip keterkaitan, saling bergantung dan saling melayani satu sama lain di dalam kasih, diaplikasikan dan dijalankan dengan baik.[5]
  Pernikahan di dalam Kristus, itu berarti baik laki-laki dan perempuan adalah satu di dalam Kristus dan tidak ada perbedaan.  Yang dimaksud tidak ada perbedaan di sini ialah perioritas suami dalam pernikahan bahwa “di dalam Tuhan,” tidak ada perempuan tanpa laki-laki dan sebaliknya tidak ada laki-laki tanpa perempuan; dan segala sesuatu berasal dari Allah (1Kor. 7:11-12).  Herman Ridderbos selanjutnya menyatakan bahwa, 
Relasi pernikahan tidak ditentukan oleh kepentingan salah satu pasangan atau penegasan superioritas masing-masing, tetapi oleh kasih di dalam Kristus. Karena itu, menjadi milik Kristus dan menjadi milik satu sama lain sebagai suami istri dalam pernikahan jangan dipisahkan, karena itu,  percabulan tidak sesuai dengan  menjadi milik Kristus (1 Kor. 16:2-20). Tubuh orang percaya adalah milik Tuhan.[6]

Gagasan tentang kesatuan dengan Kristus, Christ Marantika menjelaskan bahwa,   kesatuan orang percaya dengan Kristus ialah bersifat hakiki. Kesatuan ini bukan saja merupakan fakta, tetapi juga suatu hubungan unik di antara yang terbatas dengan yang tidak terbatas, antara yang insani dengan yang Ilahi dan Yesus Kristus,  Allah dan Manusia Sejati sebagai Pengantaranya (1Tim. 2:5; Ibr. 8:6, 9:15, 12:24).[7]
Penjelasan Chirs  Marantika di atas, penulis ingin simpulkan bahwa, persatuan dengan Kristus bukanlah bersifat sementara tetapi secara rohani dan kekal, orang percaya yang telah “berada di dalam Kristus”,  mereka mati di dalam Dia dan akan bangkit juga di dalam Dia dan akan  memperoleh kehidupan yang kekal di dalam surga.
Alkitab menggambarkan kesatuan orang percaya dengan Kristus seperti perumpamaan antara pokok anggur dan carang-carangnya, berbagai anggota tubuh dan kepalanya, kesatuan suami dan istri (Yoh. 15:1; 1Kor. 12:13; dan  Ef. 5:23).
Menurut penulis, berdasarkan kesatuan yang dimiliki oleh orang-orang percaya dengan Kristus, terdapat suatu hasil yang pasti, dan dituntut bahwa harus ada persatuan di antara sesama orang percaya yang  saling mengasihi satu sama yang lain. Kesatuan dan persekutuan yang dimiliki orang percaya dengan sesamanya ini ada dan  tumbuh dari persekutuan mereka dengan Kristus. Dalam Alkitab kita jumpai bagaimana rasul Paulus menasihatkan jemaat di Korintus mengenai perpecahan di antara jemaat itu sendiri, supaya jangan terjadi perpecahan tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan (1Kor.12:23-25).
 Pembahasan  topik ini  sangat penting karena menurut penulis kebanyakan  hamba  Tuhan  sering tidak  membedakan  anugerah  Allah  secara  umum  dan  khusus  lalu mengatakan  “Saudara-saudara yang saya kasihi “di dalam  Yesus Kristus”.
Hemat penulis bahwa tidak semua orang ada “di dalam Kristus”  yang datang beribadah di hari minggu ada dua macam orang, yang  menurut Alkitab digambarkan seperti  “kambing dan domba”   umat yang umum dan khusus  (umat yang telah dipilih dan dipanggil secara efektif  untuk datang bersekutu dengan-Nya).  Kedua,  panggilan Allah secara umum oleh Injil tetapi  tidak setia dan taat akan kebenaran Kristus.  Alkitab juga menyatakan bahwa “Sebab banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang dipilih (Mat. 22:14).  Jadi, tidak  mudah  mengatakan saudara-saudara yang saya kasihi  “di dalam Yesus Kristus.”   Tetapi pakailah kata “saudara-saudara terkasih”.
 Walaupun  arti kata “di dalam Yesus  Kristus”  merupakan kata yang pendek dan mudah sekali untuk diucapkan,  tetapi pengertiannya  mempunyai makna teologis yang  mendalam dan memiliki makna yang  khusus  dan  tidak bersifat universal.
 Dengan penjelasan dimaksud,  maka dapatlah dipahami bahwa,  melalui persatuan yang  sah  dengan  Kristus sebagai  Adam yang kedua (I Kor. 15:22), yang telah mengerjakan  semua  kewajiban yang tidak sanggup dilaksanakan  oleh  Adam yang  pertama  dan  menunaikan  semuanya untuk  kepentingan umat manusia yang percaya kepada-Nya.  Hasil dari  persatuan  dengan Kristus  ini ialah  bahwa  dosa-dosa  umat-Nya  diperhitungkan  kepada Kristus dan kebenaran Kristus diperhitungkan kepada orang percaya beserta segala hak hukum yang terdapat di dalamnya.
Alkitab  menggambarkan bahwa persatuan orang  percaya  dengan  Kristus,  memiliki beberapa contoh: bangunan  dengan  dasarnya (Ef. 2:20-22),  persatuan antara  suami  dan  istri,  Rm. 7:14; Ef. 5:31, 32,  Wahy.  19:7-9),  persatuan  antara  gembala dengan  domba  (Yoh. 10:1-18; Ibr 13:20; 1 Petr 2:25). 
Alkitab  juga dengan  jelas menyatakan  bahwa  orang yang  percaya  kepada  Kristus  mereka  berada “di dalam Dia.”  Mereka yang ada ‘di dalam Kristus”,   menjadi ciptaan yang baru  (2 Kor. 5:17).  Henry C. Thiessen  menjelaskan  bahwa,  persatuan  orang  percaya  dengan  Kristus ialah bersifat rohani dan  persatuan itu hidup.[8] 
Penulis menyetujui pendapat Henry C . Thiessen di atas, sebab banyak di temukan  kebenaran ini bahwa “persatuan dengan Kristus”  berarti memiliki jaminan yang kekal,  karena orang percaya sudah ada “di dalam Kristus” bukan di luar Kristus (Yoh.10:28-30).
Sejalan dengan pendapat di atas,  G. J. Baan  menjelaskan  bahwa,  orang-orang  percaya  disatukan  dengan Kristus: mereka  satu  dengan  Dia.  Hal ini  dapat  dibandingkan dengan tubuh:  Kristus  adalah  Kepala tubuh  rohani  Gereja-Nya, dan  orang-orang  percaya  secara pribadi adalah anggota-Nya.  Sebagaimana Kepala memerintah tubuh,  begitu pula umat Allah dituntun oleh Kristus.[9]
Pendapat  G.J.Baan di atas, jelas bahwa Kristus sebagai Kepala bagi Gereja-Nya,  Dia tetap memerintah dan menyertai Gereja-Nya sampai pada akhirnya (Mat. 28:20).  Injil Yohanes bahkan  menegaskan bahwa, Kristus berkata kepada Bapa-Nya tentang murid-murid-Nya, dan  mengenai semua orang percaya, dalam doa-Nya  sebagai Pengantara, “Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu,  yaitu nama-Mu yang telah  Engkau berikan kepada-Ku;  Aku telah menjaga mereka , dan tidak ada seorang pun dari mereka yang binasa selain dari pada dia yang telah ditentukan untuk binasa (Yudas  Iskariot yang menghianati Yesus), supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci (Yoh.17:12).  Kata-kata doa-Nya ini penulis simpulkan bahwa,  adalah mustahil bagi mereka yang oleh iman berada  dalam Kristus untuk binasa. Selanjutnya, G. J. Baan  menyatakan bahwa,
Orang-orang percaya sudah aman di dalam genggaman Yesus, bahkan di dalam genggaman Allah. Adalah kehendak Allah Bapa bahwa Kristus menyelamatkan semua orang pilihan, dan tidak satu pun dari mereka akan binasa. “Dan inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman” (Yoh. 6:39).[10]

Persatuan dengan Kristus merupakan ikatan yang tidak dapat dipisahkan antara Dia dan orang-orang percaya, ini adalah perumpamaan tentang  pokok anggur dan ranting-rantingnya. Orang-orang percaya dicangkokkan ke dalam Kristus, sama seperti ranting dari pokok anggur yang lama “dicangkokkan”  ke dalam pokok anggur yang  baru.  Anak-anak Allah dipotong dari pokok anggur yang lama yaitu di dalam Adam  (yang telah mati karena dosa), dan dicangkokkan  ke dalam Kristus. Yesus  menyatakan, “Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku  dan  Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa ( Yoh. 15:1, 5).  Di dalam ayat ini,  menunjukkan kebergantungan orang-orang percaya sebagai ranting kepada Sang Pengantara sebagai pokok anggur. Akibatnya segala sumber kehidupan rohani mengalir dari Pokok Anggur kepada ranting-rantingnya, seperti pengampunan dosa, pengudusan, ketekunan dan kehidupan kekal.
Persatuan dengan Kristus adalah  kewajiban yang mengikat bagi semua orang percaya untuk menjaga persekutuan iman antara mereka dan Raja mereka agar  persekutuan itu tidak  tampak dirusakkan untuk sementara waktu oleh dosa dan ketidakpercayaan.  Selama orang percaya mengarahkan mata iman mereka kepada Juruselamat mereka dan mengalami kehadiran-Nya yang penuh rahmat di dalam hati mereka,  mereka dimampukan untuk berperang dan  menaklukkan dosa serta iblis. Seberapa pun banyaknya dosa-dosa mereka dan betapa pun dahsyatnya  peperangan mereka, melalui anugerah Allah mereka akan tetap berpaut dengan Yesus Kristus. Mereka satu dengan Dia melalui iman. Ketika waktu Allah tiba, orang-orang percaya akan melihat kembali penyimpangan-penyimpangan mereka dengan perasaan malu, akan memulai lagi doa-doa mereka, dan akan meneguhkan kembali iman mereka dengan kata-kata dari Mazmur 119:176, “Aku sesat seperti domba yang hilang, carilah hamba-Mu ini, sebab perintah-perintah-Mu tidak kulupakan.
Di dalam Pengakuan Iman Westminster Bab XXVI  menjelaskan  bahwa:
 Semua  orang  kudus  yang  disatukan  dengan Yesus  Kristus,  Kepala mereka  oleh Roh-Nya  dan  oleh  iman,  memiliki persekutuan  dengan-Nya  di dalam  anugerah-anugerah-Nya, penderitaan-Nya,  kematian-Nya,  kebangkitan-Nya,  dan  kemuliaan-Nya. Dan dengan disatukannya satu orang kudus dengan orang kudus yang lainnya di dalam kasih, mereka memiliki persekutuan (komuni) dalam karunia-karunia dan anugerah-anugerah masing-masing, dan diwajibkan untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban tertentu, baik umum maupun pribadi, yang berguna bagi semua orang kudus, baik dalam hal rohani maupun jasmani mereka.[11]   

Arti  “di dalam Kristus,”  merupakan implikasi penting bagaimana orang percaya  mengambil bagian  dalam  Kristus,  hal itu bisa teraplikasi pada pihak lain,  milik-Nya,  jemaat yang  ditebus-Nya.  Prinsip apakah yang membuat sesuatu yang  tadinya  mengambil tempat dalam Kristus yang  Ia  genapkan, dapat diterapkan  dan mendatangkan manfaat bagi anak-anak-Nya.  Hal ini sangat terkait  dengan konsepnya tentang Kristus  sebagai Adam  kedua  Pembuka  Jalan  bagi kemanusiaan  baru.  Karena itu,  penulis akan lebih  jauh  melihat relasi yang  penting  dalam  struktur  dasar pengajaran ini secara mendalam.
Pokok  pembahasan mengenai “Persatuan Orang Percaya dengan Kristus” merupakan inti seluruh karya keselamatan yang dikerjakan Allah di dalam Kristus.  Arti penebusan Kristus tidak semata-mata disebabkan oleh  karena posisi-Nya  sebagai  Adam  yang  kedua.  Banyak  kali penulis temukan  di dalam  Kitab Perjanjian  Baru,  khususnya  dalam  surat-surat rasul Paulus mengenai orang percaya yang  ada  “di dalam Kristus.”   Kristus  telah  mengerjakan keselamatan-Nya dalam hal karya  penebusan-Nya  “Karena kita,”  yaitu  demi  kepentingan  orang  percaya,  khususnya saat  Paulus membicarakan  penderitaan,  kematian,  dan  kebangkitan Kristus.  Bukan Paulus  melainkan  Kristus yang  telah disalibkan bagi umat-Nya  (1Kor. 1:13).   Allah  membuat Kristus menjadi dosa  karena  kita  (2 Kor. 5:21),  Ia  menjadi kutuk  karena   kita  ( Gal. 3:13).   Ia menyerahkan  diri-Nya  bagi kita  (Gal. 1:4; bnd. 1 Tim. 2:6; Flp 2:14);  mati untuk kita  orang-orang  durhaka pada waktu yang ditentukan karena  dosa-dosa  kita  sesuai dengan  Kitab  Suci (1 Kor. 15:3).
 Dalam nats-nats Alkitab yang disebutkan di atas ini,  Paulus menyatakan  arti pentingnya  penebusan dan kematian Kristus  dalam karya  keselamatan-Nya  seperti, korban,  penebusan,  pendamaian dan  sebagainya.  Ayat-ayat  Alkitab di atas  jika disimak dengan  seksama,  maka  hidup  “di dalam Kristus”  adalah  sangat unik dan spiritual.  Rumusan  mengenai persatuan orang percaya  dengan Kristus  menunjukkan  bahwa  Kristus  membentuk  kesatuan tertentu dengan  mereka, yang  baginya  Ia datang,  sehingga  mereka  disebut  berada  “di dalam Kristus” (2 Kor. 5:17).  Karena mereka  “di dalam Kristus”  maka  apa  yang terjadi  “di dalam  Kristus,”  semua kebenaran Kristus diterapkan dalam hati dan hidup orang percaya.
  Rumusan “di dalam Kristus,”  “di dalam Dia,”  kerap menunjukkan pengaplikasian dari  apa yang telah,  dan  akan terjadi  di dalam Kristus,  kepada  umat-Nya.  Paulus  kerap  berbicara tentang  disalibkan,  mati,  dikuburkan, dan  dibangkitkan bersama  Kristus  (Rm. 6:3 dan  Gal. 2:19; Kol. 2:12-13, 20; 3:1, 3),  tentang  memberikan tempat  bersama-sama Kristus di surga  (Ef. 2:6)  dan tentang  menyatakan  diri  bersama  dengan  Dia dalam  kemuliaan-Nya  (Kol. 3:4). 
Herman Ridderbos  menyatakan, banyak  theolog  berupaya  menjelaskan natur  dalam kaitan  antara  Kristus  dan umat-Nya  seperti dimaksudkan  oleh rumusan  “di dalam Kristus  dan  “bersama Kristus.” Cukup lama mereka  meyakini  bahwa  “tinggal  di dalam  Kristus”  menunjukkan persekutuan dengan  Kristus  pneumatis.[12]  Selanjutnya Herman Ridderbos menambahkan bahwa:
 Menurut mereka (teolog-teolog),  dari situlah berkembang  pembicaraan tentang  mati  dan  bangkit  “bersama dengan  Kristus,”  yang  mau melukiskan pengalaman pribadi yang  paling intim.  Dikatakan juga bahwa sebagian theolog lain lagi melangkah lebih jauh dan menilai rumusan “tinggal di dalam Kristus,”  “mati dan bangkit dengan-Nya,” berakar dari konsep tergabungnya  kita  dengan  yang Ilahi: kita mengalami persatuan fisik dengan keberadaan Ilahi.[13]
Dengan pendapat  ini,  penulis dapat simpulkan bahwa: orang  percaya bersatu dengan-Nya  bukan  karena  mereka lebih baik tetapi hanya oleh anugerah Allah untuk mengampuni dosa mereka dan menjadikan mereka anak-anak-Nya.
Penyataan di atas dapat dipahami, bahwa persekutuan  anak Tuhan yang  khusus  dengan  Kristus, dan itu tidak  dilihat  dalam  pengertian  etis atau  simbolis, tetapi  dalam  pengertian harfiah,  yaitu  sebagai persatuan dengan yang ilahi,  khususnya dialami melalui baptisan dan Perjamuan Kudus,  yang  dianggap dengan  kematian  bersama Dia.  Rumusan  “mati dan bangkit dengan Kristus” tidak berasal dari pengalaman ritual seperti penerimaan anggota baru dalam agama-agama suku. Rasul Paulus dalam 2 Korintus pasal 5,  menjelaskan tentang kebangkitan orang mati saat Kristus datang  kembali. Tetapi yang  penting di sini, ayat  ini,  mensejajarkan “persekutuan dengan Kristus”  dan “persekutuan dengan  Adam.   Seperti di dalam  Adam  semua orang mati, demikian pula di dalam Kristus semua orang hidup.  Adam dan Kristus mewakili dua dunia,  dua  aeon, dua “ciptaan,” yaitu ciptaan baru dan  ciptaan lama.  Inilah yang  dinyatakan dengan  rumusan “ di dalam  Adam”  dan  “ di dalam  Kristus.”   Dan  dalam pengertian inilah disebut sebagai gambaran dari Dia yang  akan  datang.
Penulis sependapat dengan Herman Ridderbos di atas bahwa tidak bisa diragukan apa yang dikatakan dalam Firman Tuhan, karena tiap anak Tuhan diajar melalui kebenaran Firman Tuhan bahwa: manusia lama dimatikan atau disalibkan (yaitu dengan Kristus), di Golgota.  Ini jelas sekali bahwa  kematian  Kristus  di atas kayu  salib  adalah  kematian bagi  mereka (mati bagi mereka),  yaitu bagi milik kepunyaan-Nya  (umat ketebusan-Nya  Rm. 6:2; Kol. 3:3).  Sekarang kita memahami bahwa cara Paulus menguraikan tentang  peristiwa  penebusan  yang  datang melalui Kristus  mengajar untuk mengerti karakter sejarah penebusan bukan hanya dalam apa yang telah terjadi di dalam Kristus, tetapi juga sebagai cara yang melaluinya, mereka yang menjadi milik Kristus  berbagian  sekali dan selamanya, di dalam  keselamatan yang Kristus kerjakan.
Kesatuan  dengan Kristus bersumber dari pemilihan Allah Bapa sejak sebelum dunia  dijadikan dan menghasilkan pemuliaan anak-anak Allah ( Ef. 1:4; bnd. Rm. 8:29-30).  Kalau dari sudut pandang umat Allah, hal ini tidak sempit;  melainkan luas dan  dalam.  Ia  tidak  dibatasi oleh ruang dan  waktu;  tetapi mencapai eksistensi ke kekekalan.  Hal ini memiliki dua fokus, yaitu pemilihan kasih Allah Bapa di dalam pertimbangan kekekalan-Nya, dan pemuliaan dengan Kristus  sebagai manifestasi dari kemuliaan-Nya sendiri. Yang pertama tidak memiliki awal, dan yang kedua tidak  memiliki  akhir. 
Maksud penulis dalam hal ini berarti Kristus ada  dari dahulu, sekarang sampai kekal selama-lamanya.  Dan  tiap anak  Tuhan  perlu  mengetahui bahwa  pemuliaan di dalam Kristus  pada  kedatangan-Nya  kelak  akan  merupakan  awal dari penyempurnaan yang  akan  berlanjut dari  zaman  ke zaman.  “Demikianlah kita akan bersama-sama  dengan Tuhan.” (1 Tes. 4:17).  
Jika diperhatikan dengan seksama dalam 1Tes 4:17 ini, tentunya tidak terlepas dari kesatuan  dengan  Kristus,  manusia tidak dapat melihat apa-apa  tentang  masa lalu, masa kini, dan masa depan, selain kecemasan dan ketakutan di luar Kristus.  Dengan kesatuan di dalam  Kristus,  seluruh  kompleksitas waktu dan  kekekalan  berubah dan umat Allah  dapat bersukacita  dengan  kesukaan  yang tak terkatakan  dan  penuh dengan  kemuliaan.
Sumber dari keselamatan itu sendiri di dalam  pemilihan kekal Bapa dilakukan “di dalam Kristus.”   Paulus berkata:  “Terpujilah  Allah  dan  Bapa  Tuhan kita Yesus Kristus  yang  dalam Kristus  telah mengaruniakan kepada  kita segala  berkat  rohani di dalam surga.  Sebab di dalam  Dia  Allah  telah  memilih  kita  sebelum dunia  dijadikan,  supaya  kita  kudus  dan tak  bercacat dihadapan-Nya.” (Ef. 1:3, 4).   Bapa telah memilih sejak  kekekalan, dan Ia memilih di dalam Kristus. Penulis tidak dapat mengerti semua yang terlihat di dalamnya, tetapi faktanya jelas diungkapkan, yaitu bahwa tidak akan ada pemilihan Bapa dalam kekekalan yang di luar Kristus.  Kristus sendiri menyatakan bahwa “sebab di luar Aku kamu tidak berbuat apa-apa” (Yoh. 15:5d).   Jadi di luar Kristus tidak  ada  keselamatan  baik di dunia ini  dan di “dunia baru” yang  akan datang.
Pemilihan judul skripsi persatuan orang percaya dengan Kristus ini dengan latar belakang karena kurangnya pemahaman dalam  Gereja-gereja serta  ada yang mengklaim bahwa semua orang Kristen seakan-akan berada di dalam Kristus. Kristus sendiri menyatakan dalam Firman-Nya bahwa “di luar Aku”  kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Selanjutnya ditempat lain Ia mengatakan kepada murid-murid-Nya tentang  pohon dan buahnya, yang berbuah dipelihara dan yang tidak berbuah ditebang dan dibuang ke dalam api neraka  (Yoh. 15:6).
Jadi,  di dalam Kristus atau di luar Kristus sangat vital untuk dijelaskan kepada jemaat di gereja, supaya mereka dengan sungguh-sungguh memahaminya. Dan seiring dengan itu juga dijelaskan oleh Kristus di dalam Injil Matius 7:13-14 tentang dua  jalan, yaitu jalan yang sempit dan jalan yang luas (lebar) dan banyak orang yang akan melaluinya. Maksud penulis di sini, berarti orang-orang yang percaya kepada Kristus mereka sudah berada di dalam Kristus dan  akan memperoleh anugerah keselamatan yaitu hidup yang kekal, karena hanya Kristus saja jalan, kebenaran dan hidup, tak seorang pun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Kristus Pengantara yang sempurna itu (Yoh. 14:6). Dan  hidup yang kekal akan diterima dan dinikmati  hanya dan oleh anak-anak Tuhan yang ada di dalam Yesus Kristus.  Mereka yang ada di dalam Kristus  adalah mereka yang sudah dipilih dan ditentukan oleh Allah sesuai kehendak dan kedaulatan-Nya sebelum dunia dijadikan, telah dipilih-Nya untuk menjadi anak-anak Allah,  milik kepunyaan  Allah sendiri. Orang-orang yang telah dipilih itulah yang dipanggil, dikuduskan dan dibenarkan oleh Allah di dalam Kristus, mereka itu pun akan memperoleh hidup kekal di dalam Kristus. 
Jelas sekali bahwa orang-orang yang ada di dalam Kristus saja yang akan memperoleh hidup yang kekal. Dan Keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia,  sebab dibawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan (Kis. 4:12).
B.  Rumusan Masalah
Bertolak  dari latar belakang tersebut di atas,  maka masalah pokok yang akan diteliti dalam tulisan ini adalah:
Apakah Persatuan orang percaya dengan Kristus menurut Injil Yohanes 15:1-8?
C.  Tujuan  Penelitian
Dalam kajian ini ada dua  tujuan yang hendak dicapai yaitu tujuan umum dan tujuan  khusus.
1.    Tujuan Umum
Adapun tujuan umum dari Kajian ini adalah untuk mengadakan kajian tentang persatuan orang percaya dengan Kristus sepanjang kehidupan mereka di dunia ini, mati  sampai kedatangan Kristus kembali, dengan maksud memberikan pemahaman yang  benar dan meluruskan pandangan yang keliru bagi Gereja dan pribadi orang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya.
2.    Tujuan Khusus
Kajian ini bertujuan secara khusus untuk menjelaskan pemahaman yang benar tentang Persatuan orang percaya dengan Kristus berdasarkan Firman Tuhan. Penerapannya bagi orang percaya yang senantiasa bersekutu dengan Kristus secara rohani, dengan rahmat-Nya yang bebas mereka dipisahkan dari dalam dosa supaya tetap dengan status “berada di dalam Kristus.”
D.  Manfaat  Penelitian
 Adapun manfaat yang diperoleh dari penelitian ini ada dua manfaat yaitu manfaat teoritis dan praktis.
1.    Manfaat Teoritis
Kajian ini secara teoritis dapat  memberikan suatu pemahaman yang luas kepada hamba-hamba Tuhan dan bagi orang-orang  percaya, bahkan  mahasiswa teologi agar mereka yang ada “di dalam  Kristus”  semakin dihibur dan dikuatkan oleh iman mereka.
2.     Manfaat Praktis.
Manfaat praktis adalah untuk  memberikan sumbangan pemikiran dan  penjelasan yang benar tentang  persatuan orang-orang percaya, supaya hamba-hamba Tuhan dapat memahami dan memiliki pengetahuan yang benar secara Alkitabiah dan dapat diterapkan dalam pengajaran Firman Tuhan kepada jemaat Tuhan, baik melalui pengajaran maupun praktik hidup pribadi mereka dengan Tuhan.
E.  Landasan Teoritis
Dalam landasan teori ini dapat dikemukakan teori-teori, konsep-konsep persatuan orang percaya dengan Kristus dalam penerapan penebusan-Nya. Adapun kata-kata yang digunakan dalam landasan-landasan teori yakni:
A.    Persatuan
Pengertian dari kata persatuan menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia ialah: gabungan ( ikatan, kumpulan dsb) dari beberapa bagian yang sudah bersatu; misalnya  mempererat dan memperteguh.[14] 
Pengertian persatuan, kata dasarnya ialah satu.  Dari berbagai suku bangsa dan bahasa serta warna kulit, orang percaya dipersatukan oleh  Allah di dalam Kristus  tetap  teguh dan  tidak dapat dipisahkan oleh siapa  dan  oleh apa pun  di dunia ini.
Apa sebenarnya persatuan orang percaya  dengan Kristus?  Secara positif  dapat  dikatakan  bahwa persatuan ini secara rohani.  “Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya  pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia”   (1 Kor. 6:17; bnd. 12:13; Rm. 8:9, 10;  Ef. 3:16, 17).  Roh Kuduslah yang mengadakan persatuan ini. Persatuan itu hidup.  Paulus menulis, “ Aku hidup,  tetapi  bukan lagi aku sendiri yang hidup,  melainkan Kristus yang  hidup di dalam  Aku”  (Gal. 2:20),  dan  “Sebab kamu telah mati  dan hidupmu  tersembunyi  bersama  dengan  Kristus  di dalam Allah (Gal. 3:3).
Persatuan dengan Kristus sebagai keberadaan anak Tuhan “di dalam Kristus”,  jiwa yang mati karena dosa telah dilahirkan kembali dan  disatukan oleh Allah di dalam Yesus Kristus. Kelahiran kembali adalah pekerjaan Allah Roh Kudus dan dijadikan kudus. “Orang-orang kudus” orang-orang yang dipisahkan oleh dan bagi Allah sebagai status orang-orang yang ada “di dalam Kristus.”
B.  Orang  Percaya
Menurut  Kamus Besar Bahasa Indonesia yang disebut “orang” berarti manusia dalam arti khusus bukan dari arti umum. Orang percaya berarti mengakui atau yakin  bahwa  sesuatu memang  benar  atau  nyata.  Menganggap atau  yakin  bahwa  sesuatu itu benar-benar ada. Yakin benar atau memastikan  akan  kemampuan  atau  kelebihan  seseorang  atau  sesuatu  (bahwa  akan  dapat  memenuhi harapannya).[15]
Kata “orang percaya” terbentuk dari dua  kata yaitu “orang” dan “percaya” seperti yang dijelaskan diatas.  Dari kedua arti kata tersebut bilamana digabungkan,  maka  dalam pengertian umum orang  percaya  dapat diartikan sebagai orang  yang  menaruh  kepercayaan  pada  suatu  kenyataan atau fakta yang benar-benar  ada.  Ini adalah pengertian umum mengenai orang percaya.
Orang  percaya adalah tubuh Kristus yang penulis akan bahas dibab selanjutnya. Orang percaya sebagai tubuh Kristus mempunyai hubungan yang vital dengan Tuhan Yesus Kristus adalah anggota tubuh Kristus. Believe = Percaya. Istilah ini dalam pengertian teologis memiliki pengertian percaya pada Yesus sebagai Mesias. Percaya dapat diartikan beriman seperti yang diungkapkan dalam Ibrani 11:1. dan formulasi beriman atau percaya harus seperti yang tertera dalam Firman Tuhan yang mengatakan; 10:9  Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.
Dalam pengertian yang lebih khusus, orang percaya adalah orang-orang yang telah dikuduskan.  Henry  C. Thiessen  menjelaskan bahwa, 
Orang-orang percaya “telah dikuduskan dalam Yesus Kristus” (1 Kor. 1:2). Kekudusan ini diperoleh karena iman kepada Kristus (Kis. 26:18). Peristiwa “memandikan dengan air dan Firman”  mendahului pengudusan (Ef. 5:26). Dengan demikian orang percaya dianggap kudus   dan benar karena ia kini telah mengenakan kekudusan Kristus. Dalam pengertian ini semua orang percaya disebut “orang-orang kudus”.[16]

Dari  pendapat di atas  penulis dapat simpulkan bahwa orang percaya adalah  orang-orang yang telah dikuduskan  karena  kekudusan Kristus diperhitungkan sebagai kekudusan  mereka.  Artinya mereka sebelumnya tidak  kudus,  tetapi baru menjadi kudus setelah dikuduskan di dalam Kristus.
Persatuan orang percaya dengan Kristus oleh rasul Paulus menyapa mereka dengan sebutan  “orang-orang kudus,”  orang-orang yang dipisahkan oleh dan bagi Allah, dan dia secara bervariasi menyebut mereka sebagai orang-orang yang ada  “di dalam Kristus”  atau  “di dalam Kristus Yesus”  atau di dalam Tuhan Yesus Kristus” (1 Kor. 1:2; Ef. 1:1; Flp. 1:1; Kol. 1:2; 1 Tes. 1: 1; 2 Tes. 1:2).
Sinclair B. Ferguson  menyatakan bahwa, Persatuan dengan Kristus merupakan dasar dari semua pengalaman rohani dan semua berkat-berkat rohani kita. Semua ini diberikan  kepada  kita “di dalam Kristus,” dan  hanya  mereka yang ada “di dalam Kristus,”  yang bisa mengalaminya.[17]
 Menurut Penulis bahwa apa yang dikatakan  Sinclair B. Ferguson itu benar sekali, bahwa  semua  berkat  rohani  dan  semua  anugerah  khusus dari Tuhan  dialami hanya  oleh  orang  percaya  yang  ada  “di dalam Kristus”  dan tidak semua orang,  ini  jelas sekali seperti ranting  yang  tidak tinggal   pada pokok  anggurnya sehingga tidak dapat berbuah pada akhirnya ditebang dan dibuang keluar
Harold M. Freligh menyatakan bahwa; Orang percaya adalah orang yang menjadi Kristen karena iman secara pribadi kepada Yesus Kristus dan bertobat.[18] Melalui Yesus Kristus dapat mengenal Allah Bapa sehingga dapat menjadi anak-anak Allah.   Sejalan dengan  Harold M. Freligh di atas,  Starr Meade  menyatakan bahwa:
 Orang percaya adalah orang yang mempercayai apa yang telah Allah firmankan tentang dirinya sebagai orang berdosa yang dimurkai Allah serta mempercayai apa yang Allah telah firmankan mengenai Yesus Kristus bahwa Dia adalah Anak Allah dan satu-satunya yang dapat menyelamatkan orang berdosa dari hukuman yang layak diterimanya. [19]

 Berdasarkan pendapat Starr Meade di atas, penulis dapat simpulkan bahwa, orang percaya mengenal diri sebagai orang berdosa yang layak dimurkai Allah tetapi kemudian keberadaan yang berdosa itu oleh kasih karunia Allah diselamatkan oleh Allah di dalam Yesus Kristus Anak Allah yang satu-satunya.
C.    Kristus
Kristus  adalah satu Pribadi dari keTritunggalan Allah.  H. Pouw menjelaskan bahwa: Kristus  adalah sungguh-sungguh  Allah sejati dan manusia sejati[20]. S. Wismoady Wahono  menyatakan, Kristus merupakan nama gelar, dalam bahasa Yunani yang sama artinya dengan gelar Mesias dalam bahasa Ibrani yaitu “yang diurapi”.[21]
Kristus terjemahan dari Khristos yang digunakan dalam LXX  untuk kata Ibrani Mesias, berarti ‘yang diurapi.’  W.R.F. Browning menyatakan bahwa,  kata “yang diurapi” semula kata ini dikenakan kepada raja yang telah diurapi,  seperti Daud oleh  Samuel (1Sam. 16:13), dan pengganti-penggantinya (Mzm. 2:2; Dan. 9:25).[22]
Dalam Perjanjian Baru dikenakan kepada Yesus sebagai sosok yang menggenapi harapan-harapan Perjajian Lama (Luk. 2:11). W.R.F.  Browning selanjutnya ia mengatakan bahwa ‘ Kristus’ begitu sering kepada Yesus, sebagai Mesias, sehingga seakan-akan menjadi nama keluarga yang dilekatkan dan dikenakan kepada Yesus sebagai Mesias, sehingga seakan-akan nama keluarga yang dilekatkan pada Yesus  (Yoh. 1:17).[23].  Yesus sebagai Mesias.  Masiah (Ibrani) sama dengan Christos (Yunani), artinya “Yang Diurapi”.
Mula-mula Mesias bukanlah sebuah sebutan atau gelar. Beberapa orang termasuk mesias Allah, dalam arti mereka diurapi untuk suatu tugas khusus: imam (Im 4:3; 6:22), raja (1Sam 24:10; 2Sam 19:21; 23:1), nabi (1Raja 19:16), “Mesias” mulai dipahami sebagai gelar.[24]





  Berikut  W.R.F  Browning  menyatakan bahwa, Mesias  adalah orang yang akan  menjadi juruselamat umat-Nya, dalam Perjanjian Lama baik untuk raja-raja dan untuk imam-imam, terutama raja Daud dan para penggantinya, tetapi juga raja Koresy (Yes. 11:1).[25] 
Dalam pengharapan jika diperhatikan, hal ini terarah pada eskatologis nabi-nabi, diharapkan seorang raja yang kelak akan memerintah dalam keadilan dan damai ( Yes. 11:1-5),  namun kata ‘Mesias’ W.R.F. Browning menyatakan bahwa:
Kata ‘mesias’ itu tidak ditemukan dalam tulisan-tulisan mereka. Gulungan laut Mati menunjuk pada kedatangan dua tokoh imamat dalam tradisi Melkisedekh, yang menyatakan kedua fungsi itu, yaitu raja dan imam, dalam dirinya. Pada perumpamaan-perumpamaan kitab Henokh (Henokh 37-71), dari pertengahan abad M, ada pula disebut seorang Mesias yang adalah Anak Manusia surgawi. Jadi, inti referensi adalah Allah yang turun tangan dalam sejarah manusia dengan mengutus utusan-Nya. Para pembaca Kristen kemudian mendapatkan petunjuk-petunjuk dalam Perjanjian Lama, bahwa Mesias ini harus menderita (mis. Mzm 22:6-8).[26]

Penulis sependapat dengan pendapat W.R.F. Browning di atas, karena apa yang dituliskan dalam seluruh Kitab Taurat Musa, Kitab nabi-nabi, dan Kitab Mazmur terarah pada Kristus yang akan dan telah datang untuk menggenapi-Nya, Ia menderita dan mati, bahkan sampai mati di kayu salib (Flp. 2:8). Dalam Perjanjian Baru ‘Mesias’ Ibrani ini menjadi ‘Kristus’ (bahasa Yunani: Christos= Kristus). Tetapi petunjuk kepada Yesus sebagai Mesias sangat jarang terdapat dalam Injil-injil Sinoptik.
Untuk  memahami dengan benar tentang  Oknum Tuhan Yesus Kristus penting dalam Pribadi Kristus dan  pekerjaan-Nya. Thomas Michel, S. J menjelaskan,
Bangsa Yahudi meyakini bahwa Mesias akan datang dari keturunan Daud.  Baik Injil Matius maupun Lukas di awali dengan silsilah yang menunjukkan Yesus sebagai keturunan Daud. Kelahiran-Nya di Betlehem, kota Daud, merupakan petunjuk lain bagi Jemaat Kristiani awal bahwa Yesus adalah Mesias yang dinanti-nantikan.[27]
  
Sejalan dengan Pengertian Oknum Kristus dan pekerjaan-Nya, Katekismus Heidelberg Minggu ke-12 Pert & Jwb 31 merumuskan bahwa:
31. Pert. Mengapa Dia dinamakan Kristus, yang artinya 'Yang diurapi'?
Jaw. Sebab Dia telah ditetapkan oleh Allah Bapa dan diurapi dengan Roh Kudus (a), menjadi Nabi dan Guru, Imam Besar, dan Raja kita. Sebagai Nabi dan Guru kita yang tertinggi (b), Dia telah menyatakan kepada kita dengan sempurna seluruh rencana dan kehendak Allah yang tersembunyi mengenai penebusan kita (c). Sebagai Imam Besar kita satu-satunya (d), Dia telah menebus kita dengan kurban satu-satunya, yaitu tubuh-Nya sendiri (e), dan senantiasa menjadi Pengantara kita di hadapan Allah dengan doa syafaat-Nya (f). Sebagai Raja kita yang kekal, Dia memerintah kita dengan Firman dan Roh-Nya serta melindungi dan memelihara kita sehingga tetap memiliki keselamatan yang telah diperoleh-Nya [28]

F.  Metode  Penelitian
Adapun jenis penelitian yang dipergunakan dalam kajian ini adalah sebagai berikut:
1.      Jenis  Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam kajian ini adalah  penelitian normatif  atau kepustakaan.  Studi kepustakaan (Library Research) adalah “penelitian yang dilakukan dengan  menghimpun data-data dan berbagai literatur, baik dari perpustakaan maupun dari tempat-tempat lain[29]
2.      Jenis Pendekatan
Adapun  jenis  pendekatan yang digunakan dalam kajian ini adalah pendekatan teologis dan  pendekatan historis.
a.     Pendekatan Teologis
Pendekatan teologis digunakan untuk menggali permasalahan yang diteliti ini secara langsung dari  Alkitab sebagai sumbernya. Pendekatan Teologis adalah “pendekatan iman untuk merumuskan kehendak Tuhan dalam bentuk Wahyu yang  disampaikan kepada para nabi dan rasul-Nya agar dapat dipahami secara dinamis dalam konteks  ruang dan waktu”.[30]
b.   Pendekatan Historis
Jenis pendekatan yang digunakan ialah pendekatan historis. Menurut Talisiduhu Ndaha, yang dimaksud dengan pendekatan historis ialah “pendekatan yang digunakan untuk menelusuri jalur-jalur kesejarahan”,[31] “agar dapat diketahui asal usul pemikiran, pendapat, karakter tertentu dari seorang tokoh atau mazhab atau golongan”.[32]
c.       Pendekatan Hermeneutik
Adapun definisi   hermeneutics (bahasa Inggris) atau hermeneutik, berasal dari kata Yunani  hermeneuw, yang  berarti menginterpretasi, menjelaskan, atau menterjemahkan.[33]
Hermeneutika adalah ilmu yang mencari tahu caranya menafsirkan ucapan atau tulisan apapun. Hermeneutika menentukan hukum-hukum yang harus diperhatikan supaya tafsiran sesuai dengan tulisan atau ucapan sendiri.[34]
3.    Sumber bahan penelitian
Adapun sumber bahan yang penulis pergunakan dalam kajian ini adalah sumber-sumber yang dapat menunjang  dalam pembahasan pada topik yang dipilih.
1.    Sumber bahan Primer
Sumber bahan primer adalah sumber utama  atau bahan  dasar. Dalam kajian ini yang menjadi sumber bahan primer satu-satunya adalah   Alkitab.
2.    Sumber bahan sekunder
Sumber bahan sekunder  adalah sumber bahan yang berisikan informasi tentang bahan sekunder, terutama buku-buku referensi, tafsiran Alkitab dan buku-buku teologi yang lain.
3.      Sumber bahan tersier
Yang  dimaksud  dengan sumber bahan tersier adalah bahan-bahan penunjang untuk bahan primer, misalnya; Kamus Umum, Kamus Alkitab, Ensiklopedi  Alkitab, Konkordansi  Alkitab  dan buku-buku penunjang lainnya.
4.    Metode Pengumpulan Bahan Penelitian
Adapun  metode pengumpulan bahan yang penulis gunakan dalam kegiatan mengumpulkan  bahan-bahan teologi untuk membahas judul diatas adalah sistem kartu.  Sistem kartu adalah “ suatu kegiatan mencatat beberapa aspek tertentu secara ilmiah dan sistematis, terarah  dan  bertujuan  bukan  sekedar tetapi merupakan suatu  upaya  untuk menghimpun  informasi yang  sesuai  dengan  topik pembahasan”.[35]
5.    Teknik Analisis
Dalam melakukan analisis judul skripsi diatas,  penulis menggunakan teknik induktif  dan  deduktif.  Induktif  adalah study  yang ingin memahami study dari yang  khusus  keumum. Sedangkan teknik deduktif  adalah “suatu study  yang ingin memahami suatu  pemikiran yang  umum  kepemikiran yang khusus”.[36]
 (Oleh Felix Alindam )



[1]Jhon Murray, Penggenapan dan  Penerapan Penebusan,  pen. Sudjipto Subeno,  ed. Hendry Oggowidjojo, Cet. 2,  Momentum,  Surabaya,  2003,  h. 205.
[2]Ibid
[3]Sinclair B. Ferguson,  Kehidupan Kristen,  Sebuah Pengantar Doktrinal,  pen. Lanna Wahyuni dan Selena Christa Wijaya,  ed. Irwn Tjulianto,  Cet. 1,  Momentum,  Surabaya,  2007,  h. 138.
[4]Redaksi e-Reformed, Yulia Oeniyati yulia(at)in-christ.net http://reformed.sabda.org .
[5]Herman Ridderbos,  Paulus: Pemikiran Utama  Theologinya,  pen. Hendry Ongkowidjo,  ed, Steve Hendra,  Cet- 1,  Momentum,  Surabaya,  2008,  h. 322.
[6]Ibid  h. 323
[7]Chris Marantika, Doktrin  Keselamatan  dan  Kehidupan  Rohani,  ed. Karel  M. Siahaya,  Korektor, Nanik Sutarni,  Cetakan  Kedua,  Imam  Press,  Yogyakarta,  2007,  h. 119.
[8]Henry  C. Thiessen, Teologi Sistematika, Cetakan Ketujuh, Penerbit Gamdum Mas, Malang,   2008,   h.  435.
[9]G. J. Baan, TULIP, Lima Pokok Calvinisme, pen. Samuel Pulung dan Herdian Aprilani, ed. Irwan Tjulianto, Cet. 1, Momentum, Surabaya, 2009,  h. 176.
[10]Ibid.
[11]G.I.Williamson, Pengakuan Iman Westminster, pen. Irwan Tjulianto, ed. Solomon Yo, Cet. 1, Momentum,   Surabaya,   2006,   h. 301.
[12]Herman Ridderbos…,  Op Cit    h. 51
[13]Ibid,
[14]W. J. S  Poerwadaminta,  Kamus  Umum Bahasa Indonesia,  pen. PN Balai Pustaka, Cetakan ke V,  Pusat Pembinaan dan  Pengembangan  Bahasa,  Jakarta, 1976,  h. 876.
[15]Kamus Besar Bahasa Indonesia,  Cet. 9, Pusat Pembinaan  dan Pengembangan  Bahasa, Balai  Pustaka,  Jakarta,  1997,  h. 753.
[16]Henry C. Thiessen, direvisi oleh Vernon D. Doerksen, Teologi Sistematika, Cetakan Ketujuh, Penerbit Gandum Mas,  Malang, 2008,  h.  433.
[17]Sinclair B. Ferguson  Loc Cit 
[18]Harold  M. Freligh, Delapan Tiang Keselamatan, pen. Pauline Tiendas, Cet. ke-7, Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 1999, h. 22.
[19]Starr Meade, Membentuk Hati, Mendidik Akal Budi, pen. Adina M. Rorimpondey, Cet. pertama, Momentum, Surabaya,  2004, h. 162.
[20]P. H. Pouw, Ulasan Singkat tentang Homiletik, Ilmu Berkhotbah, red. Ganda Wargasetia,  Cet. ke-14, Yayasan  Kalam Hidup,  Bandung,  2002,  h. 79.
[21]S. Wismoady  Wahono,  Di Sini Kutemukan,  Cet.1, BPK Gunung  Mulia,  Jakarta, 1996,  h.  408.
[22]W. R. F. Browning, Kamus Alkitab: a dictionary of the Bible, Panduan dasar ke dalam kitab-kitab, tema, tempat, tokoh dan istilah-istilah alkitabiah, pen. Liem Khiem Yang dan Bambang Subandrijo,  Cetakan . Ketiga, BPK Gunung  Mulia,  Jakarta,  2008,  h. 218.
[23]Ibi
[25] Ibid
[26] W.R.F. Browning,  Kamus AlkitabOp Cit,   h. 267.
[27]Thomas Michel, S.J.  Pokok-pokok Iman Kristiani, Sharing Iman Seorang Kristiani dalam Dialog Antar Agama, terj. Y.B. Adimassana & F. SubrotoWidjojo, S. J,  Cetakan  Kedua, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta,  2007, h. 55

[28]The van den End, Enam Belas Documen Dasar Calvinisme, Katekismus Heidelberg, Cet. 3, Gunung  Mulia,  Jakarta,  2004,  209.

[29]H.Handari Nawawi, Metode Penelitian Bidang Sosial, Gaja Mada Unifersity Press,  Yogyakarta,  1995,  h.  30

[30]Ichwei  G. Indra, Teologi Sistematis, Cetakan  Pertama,  Lembaga  Literatur  Baptis, Bandung, 1999,  h.  15-16.

[31]Talisiduhu  Ndaha,   Research  Teori  Metodologi  Administrasi,  Bina Aksara,  Jakarta,  1985,   h. 7

[32]Iman Suprayoga dan Tombroni,  Metode Penelitian Sosial Agama, Remaja Rosdakarya, Bandung,  2001,  h. 66.

[33]Hasan Susanto,   Hermeneutik, Prinsip  Dan Metode  Penafsiran Alkitab,  Cet. 4,  Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang, 1991, h. 1

[34] C. J. Haak,   Op. Cit,  h. 19.
 
[35]Kartini  Kartono,  Pengantar Metodologi Riset Sosial,  Cet. ke- VII,  Mandar  Maju Perss,  Bandung,  1996,  h. 76.

[36]Hilman Hadikusuma, Metode Pembuatan Kertas Kerja atau Skripsi Ilmu Hukum, Mandar Maju Perss, Bandung,  1995,  h. 12.


Kata kata

Cintailah seseorang sepenuhnya, termasuk kekurangannya, dan suatu saat kamu akan pantas mendapatkan yang terbaik darinya.

SESUATU YANG BERHARGA

Terkadang, Tuhan menghilangkan sesuatu yang sangat berarti dari genggamanmu, agar kamu menyadari kesalahan dan berubah menjadi lebih baik.